Tulisan dan foto di blog ini bebas didownload, namun untuk penggunaan kembali hanya dibebaskan untuk kepentingan non-komersial dengan mencantumkan alamat sumber tulisan/foto. Hormati karya cipta!.

Kamis, 16 Februari 2012

Jejak Pasir: Pantai Merah, Komodo, Kanawa

Suasana siang hari kala pasang di Pantai Merah, Pulau Komodo


Hari Minggu pagi tiba-tiba kami telah duduk di atas perahu membelah laut yang airnya selaksa kaca bening yang memantulkan bayangan pulau-pulau yang menutupi perairan Labuan Bajo. Semua terasa mendadak, berawal dari setengah rencana yang berubah cepat. Hari Sabtu malam memang aku sudah menelepon Arman, teman dari Bappeda tentang rencana kami Minggu mau jalan menggunakan perahunya.
Waktu itu kami masih merencanakan perjalanan ke Pulau Bidadari untuk  snorkling dan ke Pulau Rinca untuk melihat Komodo. Aku sudah sering pergi ke kedua pulau itu, Angga yang baru kali kedua ke Labuan Bajo belum pernah pergi ke kedua tempat itu.  Masalahnya ternyata kedua perahunya sekarang masih di dermaga untuk perbaikan, untungnya Arman punya banyak kenalan yang menyewakan kapal.  
View dermaga Labuan Bajo pada pagi hari
Baru duduk sambil kucak-kucak mata, tiba-tiba aku dikejutkan kedatangan Arman pagi-pagi ke hotel.  Kami masih sempat sarapan pagi dan minum teh karena sampai saat itu masih pada keputusan hanya akan ke Pulau Bidadari dan Pulau Rinca. Sempat terlontarkan ide mau ke Pantai Merah atau ke Pulau Kanawa, tapi perhitungan waktunya agak sulit. Tapi Arman menawarkan kami untuk jalan pagi ini, perhitungan dia jika memang memungkinkan berangkat harus sudah pagi-pagi jalan. Mencoba peruntungan, aku dan Angga langsung buru-buru mempersiapkan perlengkapan. Untung Kadek sempat meninggalkan peralatan snorkling, sehingga kami bisa membawanya sekarang.
Bulan-bulan begini kondisi pariwisata di Labuan Bajo masih terasa sepi, perahu-perahu yang biasa disewakan banyak parkir di dermaga.  Setelah Arman berbincang dengan salah satu pemilik kapal, akhirnya disanggupi untuk mengantarkan pergi ke Pantai Merah yang ada di Pulau Komodo asalkan jalan pagi ini juga karena dari perhitungannya kalau jalan saat ini mendapat keuntungan arus yang mendorong perahu bukan arus balik. Dengan kesepakatan biaya satu juta, aku, Angga dan Ferdi segera naik ke atas perahu. Sayangnya Arman tidak bisa ikut kami kali ini.

Melintasi Lautan Kaca
View pulau-pulau di perairan Manggarai Barat
Dan disinilah aku dan Angga sekarang, duduk di depan perahu menikmati perahu membelah lautan kaca. Dari view atas Labuan Bajo memang sudah tampak kalau laut di sini di penuhi oleh pulau-pulau kecil yang tersebar banyak sekali saling bertumpuk sehingga air laut lebih sering terlihat begitu tenang, permukaan hanya tampak layaknya air yang mengalun nyaris tanpa gelombang. Bayangan pulau-pulau tergambar jelas di air.
Perahu melewati puluhan pulau, ada beberapa pulau yang kuingat seperti Pulau Pungu, Pulau Kelor, Pulau Sembayun, Pulau Pasir Putih, Pulau Pasir Panjang, Pulau Rinca, dan beberapa pulau lain. Setiap pulau seperti menantang kita untuk mendatangi. Cerita pak Tayeb, pemilik perahu saat kami duduk-duduk di depan perahu, pada musim-musim ramai turis asing mereka sering menyewa perahu selama dua atau tiga hari untuk berkeliling pulau-pulau. Selain mereka menikmati keindahan pulau dan perairan di sekitar pulau, sepertinya mereka juga sedang mencari tempat untuk berinvestasi.
Angga di depan perahu menyusuri perairan Komodo
Luar biasa pesona pulau-pulau dan perairan di sini, dengan kondisi perairan seperti itu tak heran jika kawasan terumbu karang hampir dengan mudah ditemui di berbagai sudut. Koral-koral seperti mendapatkan tempat yang nyaman untuk berkembang, pasir-pasir putih menghampar di setiap pulau.
Namun seperti di katakan pemilik perahu, kita harus melewati Selat Sape untuk sampai ke Pulau Komodo. Nah di selat inilah yang paling ditakuti para pemilik perahu, mereka tidak bisa sembarangan lewat selat ini karena pada waktu-waktu tertentu maka kondisi perairan ini bisa muncul pusaran-pusaran ganas yang jika salah penanganan bisa membuat perahu karam. Para pemilik perahu yang sering melewati selat ini sepertinya sudah sangat paham dan mengerti kondisi di sini, mereka biasanya tahu jam-jam berapa kita bisa melewati selat Sape dan jam berapa kondisi selat tidak mungkin bisa dilewati.
Untungnya sesuai perkiraan, arus selat Sape sedang berpihak dengan kami, arusnya mendorong kami sehingga perahu bergerak lebih cepat. Namun perahu tetap harus hati-hati, beberapa kali perahu harus bergerak memutar menghindari arus air berputar.  Di seberang kami melihat sebuah perahu yang nyaris tidak bergerak karena arahnya menantang gerak arus. Menurut pak Tayeb jika sedang melawan arus selat Sape perjalanan yang cuma satu jam bisa menjadi tiga jam.

Short Trek: Pulau Komodo
View Pulau Komodo siang hari dari Frigate Hill
Satu jam kemudian kami berhasil melewati selat Sape, perairan kembali tampak tenang, kami kembali melewati lautan kaca. Perahu kami menerobos masuk ke dalam lekukan dalam pulau Komodo melewati kawasan pantai berpasir putih dengan air yang bening.
Perahu kami melewati kawasan Pantai Merah namun atas saran pak Tayeb, kami singgah dulu ke petugas Taman Nasional Komodo (TNK) sekaligus biaya masuk. Sebenarnya terumbu-terumbu yang tampak dari atas perahu seperti menarik kami untuk segera terjun seperti halnya beberapa orang asing yang sedang asyik snorkling.
Perahu kami terus masuk ke dalam dan menambatkan perahu ke dermaga kayu. Di sisi utara tampak bangunan dermaga beton yang sedang dibangun namun belum selesai. Di sebelah selatan tampak sekumpulan rumah-rumah, menurut keterangan petugas di situlah satu-satunya kawasan hunian yang diijinkan ada di Pulau Komodo ini. Kalau di Rinca biasa disebut dengan Loh Buaya, maka Pulau Komodo disebut dengan istilah Loh Liang.
Jembatan di jalur short trek menuju ke Frigate Hill
Selesai urusan administrasi, kami langsung di ajak seorang ranger yang bertugas mendampingi kami ke peta jalan. Disitu ada beberapa pilihan trekking yang dapat kami ambil: short trek, medium trek, long trek dan adventure trek. Sebenarnya yang paling menarik adalah Long Trek, karena di salah satu spot adalah lokasi dari sarang komodo (dragon nest). Cuma mempertimbangkan waktu, Angga lebih memilih jalur pendek. Kalau istilahnya, ini jalurnya wisatawan lokal dan orang-orang yang tidak mau susah hahahaha. Kalau wisatawan yang niat ke sini, biasanya ambil yang long trek atau sekalian adventure trek.
Sang ranger, Jacky namanya mengambil sebuah tongkat kayu yang ujungnya bercabang, dia juga meminta kami memegang tongkat itu. Jacky ini adalah penduduk asli yang tinggal di perkampungan yang kami lihat dari dermaga tadi. Menurut pak Tayeb, satu-satunya yang bahasa yang paling berbeda di Labuan Bajo adalah bahasa penduduk lokal Komodo.
Karena berjalan menuju ke titik pertama di Water Hole yang dikenal dengan nama Hutan Asam. Disini ada sebuah daerah genangan air yang dipakai binatang semacam rusa, babi, kerbau, sapi liar untuk minum air sehingga daerah ini mencari daerah utama perburuan komodo. Selain binatang itu, burung Kakatua Putih dan Gagak juga banyak ditemui di sini.
Pose di belakang seekor Komodo di water hole
Menurut penuturan Jacky, di Pulau Komodo masih terjadi beberapa kejadian komodo memangsa manusia. Terakhir kali dia cerita, seorang anak kampung mati digigit komodo saat buang air besar. Walaupun tidak disantap komodo karena berhasil ditolong warga namun dengan kondisi lukanya akhirnya nyawa anak itu tidak tertolong. Komodo disini masih dibiarkan dengan sifat aslinya, jadi dari awal ranger yang mendampingi akan memperingatkan pengunjung untuk berhati-hati dalam berjalan dan tidak berbuat sesuatu yang dapat memancing komodo salah satunya adalah dengan menggerak-gerakkan sesuatu benda. Menurutnya, gerakan berulang-ulang seperti tali terjuntai bisa mengundang insting komodo karena dianggap sebagai mangsanya. Saya kurang tahu, apakah ini ada hubungannya dengan ekor binatang. Karena komodo ini walau tampak sebagai binatang pemalas, bodoh namun juga cerdik dan licik. Kebiasaannya yang diam di satu tempat seperti batu kadang dianggap tidak berbahaya, padahal jika kita dalam jangkauan komodo bisa tiba-tiba bergerak cepat. Kecepatan larinya bisa mencapai 20 km/jam.
Seekor rusa liar yang sedang makan dan berteduh di depan restoran
Angga sempat menunjukkan perasaan jerih saat seekor ular hijau tampak di pepohonan. Kami beruntung, sampai di hutan asam kami menemukan dua ekor komodo yang diam layaknya batu di samping lokasi genangan air.
Dari lokasi Water Hole kami bergerak ke arah bukit Frigate Hill, dari atas sini kami bisa melihat view dermaga Komodo. Tampak beberapa ekor rusa sedang asyik makan di atas bukit. Sebentar di sini kami turun ke bawah ke arah perkantoran TNK dan tempat beristirahat. Di sini, kami melihat lebih banyak rusa yang sedang asyik berlindung di bawah pohon. Cukup banyak, rupanya tempat ini menjadi tempat yang aman bagi rusa-rusa liar ini karena pasti tidak ada pemburu liar yang berani memasuki kawasan ini. Cerita tentang pemburu liar, jumlah komodo yang terus menurun setiap tahun juga disebabkan oleh ulah para pemburu liar ini. Menurut Jacky, para pemburu umumnya dari Sape dan mereka sebagian besar memburu rusa baik untuk komsumsi sendiri atau dijual. Padahal komodo sendiri lebih menyukai berburu rusa dibanding dengan babi hutan.

Pantai Merah (Pink Beach)
Perairan yang jernih kehijauan di Pantai Merah
Aku kurang tahu apakah pantai merah ini sama dengan pantai pink (pink beach) yang disebut-sebut sebagai satu dari tiga pantai yang berpasir merah di dunia. Tapi tidak seperti dugaanku, Pantai Merah ini ternyata lokasinya tidak jauh dari dermaga Komodo dan masih dalam lintasan yang harus dilewati jika ingin ke Pulau Komodo. Air di perairan ini sangat tenang, namun sayangnya saat itu ternyata air baru pada posisi masih pasang. Terumbu karang berada di kedalaman empat sampai lima meter, dan yang paling menyulitkan adalah saat itu terjadi arus yang cukup kuat ke tengah di sisi selatan perairan. Hal itu aku rasakan saat aku dan Angga mencoba mencapai terumbu karang dari sisi selatan, tanpa bergerak ternyata badan kami terseret ke tengah dengan cepat. Menyadari situasi ini aku segera ke pinggir pantai setelah memberikan kode ke Angga untuk tidak ke pinggir juga. Angga sendiri sebenarnya ini menjadi pengalaman pertama snorklingnya, kondisi perairan seperti ini jelas berbahaya untuknya.
Walaupun saat ini siang hari dan cuaca terasa sangat panas, namun sebaliknya air yang mengalir jernih justru terasa dingin, kontras sekali. Mungkin pengaruh pergerakan arus di sini yang menyebabkan suhu air dingin.
Perahu kami tak bisa ke pinggir pantai, menurut aturan dari petugas Taman Nasional Komodo memang perahu besar dilarang ke pinggir pantai dan hanya menambatkan perahunya di tengah, untuk ke pantai harus dengan perahu kecil atau dengan motor boat yang biasanya dibawa serta di perahu besar. Sayang perahu kami tidak memiliki perahu kecil seperti yang digunakan para bule yang sekarang dengan kameranya asyik naik di atas motor boat ke pinggir pantai.
Pantai merah ini memang punya kawasan terumbu yang indah, jika beruntung bahkan kita bisa melihat Manta Ray, ikan pari raksasa dengan kepala terbelah dua. Kawasan pantai berpasir putih dengan aksen merah, yang rupanya berasal dari remukan terumbu karang merah yang telah mati. Kami hanya berenang sebentar di pantai merah karena posisi matahari yang berada di atas kepala terasa keras menyengat, sementara dari perhitungan pak Tayeb kami masih bisa singgah di Pulau Kanawa jika berangkat saat ini.
Pulau Kanawa (Kanawa Island)
View Kanawa Resort Island dari atas perbukitan dari sisi sebelah barat
Kami kembali melewati selat Sape yang kali ini arusnya terasa lebih kuat dari pada siang tadi. Beberapa lokasi tampak arus berputar melingkar membentuk pusaran dalam sehingga perahu harus bergerak menjauhi. Untung perahu kami cukup besar sehingga liukan-liukan perahu menghindari pusaran-pusaran air tidak begitu terasa. Arus balik kali ini juga membantu kami membuat perahu bergerak laju walaupun perahu juga tidak dapat bergerak lurus dengan adanya pusaran-pusaran itu.
Selepas selat Sape kami kembali merasakan menerobos lautan kaca, setelah melewati beberapa pulau, dua jam berikutnya kami akhirnya mendekat ke dermaga kayu di Pulau Kanawa. Karena saat itu sudah dalam kondisi cukup surut dari pinggir dermaga kami bisa melihat koral-koral di sepanjang pantai Kanawa. Sebuah tulisan dari bambu dicat putih membentuk tulisan KANAWA tampak di akhir dermaga.
View Pulau Kanawa dari sisi sebelah selatan
Pulau Kanawa ini sudah disewa oleh orang asing dan di atas pulau dibangun pondok-pondok kecil sebagai tempat menginap yang dikenal sebagai Kanawa Resort Island.  Namun pada bulan Februari ini situasi tempat ini tampak sepi, hanya beberapa pondok yang ditinggali oleh wisatawan asing, selebihnya adalah para pekerja di resort itu. Menurut seorang pemuda yang bertindak sebagai dive master di tempat ini, pada bulan-bulan begini memang hampir seluruh resor di pulau-pulau masih sepi karena kondisi perairan dalam begini memang cenderung lebih keruh. Biasanya wisatawan mulai datang pada bulan-bulan setelah hujan tidak banyak, yaitu sekitar bulan April ke atas. Alasan utama karena memang pada bulan begini perairan sering berubah agak keruh karena arus yang lebih kuat dibanding pada bulan-bulan itu.
Dermaga kayu menuju ke Kanawa Resort Island
Karena ingin melihat sekeliling, pekerja dari Kanawa Resort menawarkan kami untuk trekking ke atas bukit.  Tiga ekor anjing, salah satunya diberi nama Alvin dengan sigap mendahului kami dan menjadi penunjuk jalan. Sepertinya ketiga anjing ini telah dilatih sedemikian rupa untuk menjadi penunjuk jalan bagi orang-orang yang mau trekking.
Trekking ini paling pas untuk bisa melihat kondisi keseluruhan dari Pulau Kanawa sekaligus melihat kondisi perairan di seluruh perairan. Dari atas bukit ini kita bisa melihat sunrise dan sunset. Lokasi yang menawan.
Anjing yang menjadi penunjuk jalan kegiatan trekking kami
Jalan trekking menanjak 60 derajat dan hanya bagian bawah yang sudah disemen sementara bagian atas berupa jalan tanah. Cukup melelahkan dan menguras tenaga kami karena sebelumnya kami juga sudah capek trekking di Komodo. Anjing-anjing itu dengan lincah menyusuri jalan kecil, sesekali naik ke atas batuan untuk memastikan kami bisa melihat keberadaan mereka. Namun ternyata jalan yang harus dilalui makin sulit, beberapa batu langsung bergeser ketika diinjak membuat kami harus ekstra hati-hati.
Namun ternyata jalur trekking berhenti karena selebihnya belum dibuat jalur, karena waktu yang sudah semakin sore akhirnya kami memutuskan untuk turun kembali. Mungkin kami perlu kembali dan merencanakan perjalanan yang lebih baik agar bisa mengeksplorasi tempat-tempat ini lebih detil.

Labuan Bajo: Amazing View of Sunset
Menjelang malam saat kapal bersandar di dermaga di Labuan Bajo
Meskipun pulau-pulau di perairan Labuan Bajo, namun Labuan Bajo sendiri menawarkan pesona view yang tak kalah menawan. Walaupun belum infrastruktur belum lengkap namun pembangunan beberapa hotel berbintang empat dan lima menunjukkan bahwa Manggarai Barat memiliki potensi luar biasa yang akan terus mampu menyedot wisatawan untuk datang menikmati sensasi alam di Labuan Bajo.
View senja di Labuan Bajo dari Puncak Waringin
Pemandangan sore hari adalah pemandangan yang tidak bisa dibiarkan begitu saja, dan Labuan Bajo adalah tempat yang sangat tepat dengan keberadaannya di sisi barat pulau Flores, tarikan awan senja merah dapat anda nikmati dari hotel-hotel dan penginapan yang berdiri di sepanjang sisi miring tebing yang menghadap ke barat. Kafe-kefe dan restauran juga banyak dibangun dengan ketinggian yang memungkinkan kita leluasa melihat matahari terbenam menghilang diantara pulau-pulau yang tampak saling bertumpuk.
Sebuah negeri 1000 pulau yang benar-benar menjanjikan petualangan wisata laut yang luar biasa. Anda hanya harus membiasakan diri betapa tidak mudahnya sarana transportasi di tempat ini.
Baca keseluruhan artikel...

Kamis, 09 Februari 2012

Akhirnya: Foto Kelimutu dari Atas


Akhirnya hari yang tepat datang, suara sang pilot dari ruang kokpit pesawat milik Wings Air memberitahukan bahwa sekarang sedang terbang di atas danau Kelimutu yang bisa dilihat dari sebelah kiri. 
Mata yang lagi sentengah mengantuk langsung byar terbuka terang. Cuma posisi duduk lagi di sebelah kanan bukan posisi yang tepat untuk mengambil gambar. Padahal cuaca sedang bagus-bagusnya, danau kelimutu yang sedang berwarna hijau dan biru tosca mengintip dari jendela kiri. 
Waktu menengok ke deretan kursi belakang ternyata posisi sebelah kiri sedang kosong, langsung dengan secepat kilat aku langsung berlari ke kursi kedua dari belakang. Pesawat yang terbang memutar dua kali memberikan kesempatan aku dan beberapa penumpang mengabadikan danau. Pagi tadi sebenarnya langit tidak sedang benar-benarcerah, awan tipis kelabu masih menyelimuti langit yang seharusnya biru tapi matahari masih bisa bersinar dari dari balik awan tipis itu.
Setelah beberapa kali aku kembali ke tempat dudukku, karena aku merasakan perasaan tidak enak di lambung. Maklum penerbangan pagi memang sering bikin insiden seperti ini, ditambah harus merasakan pesawat melakukan manuver putaran seperti ini.
Tiba-tiba setelah sesaat pesawat menjauh pesawat berbalik dan kembali memutari danau kelimutu namun kali gantian dari sisi kanan pesawat tetap di posisi tempat dudukku sekarang.
Kali ini posisi terbangnya lebih rendah dari posisi terbang putar sebelumnya. Kali ini kameraku bisa menjangkau lebih terang danau Kelimutu. Namun aku hanya bisa memotret beberapa kali karena lambung makin terasa tidak enak ditambah kepala yang tiba-tiba terasa menegang. Hah, aku hampir mendekati mabuk. Terpaksa aku memejamkan mata membiarkan pilot menyelesaikan putaran terakhir.
Aku bahkan tidak berani mengintip beberapa lama untuk memastikan telah sampai di daerah mana selama beberapa menit. Hanya aku sempat mengintip sebentar melihat pesawat sedang melintasi daratan flores dari sebelah utara.
Setelah kepala dan lambungku mau sedikit berkompromi barulah aku bisa melihat hasil fotoku, ternyata semua foto yang kuambil dari jendela sebelah kiri tidak ada yang tajam. Aku rupanya lupa membersihkan jendela yang mungkin kotor oleh tangan penumpang sebelumnya.
Untungnya aku masih mendapatkan gambar-gambar yang cukup bagus yang aku ambil dari sisi kanan karena jendela sudah aku bersihkan semenjak berangkat dari Kupang. sayangnya di foto sebelah sini, tempat dudukku persih di deret yang dekat dengan bagian belakang pesawat sehingga semua foto-fotoku pasti meninggalkan jejak sayap pesawat. Wah harus di crop lagi deh :D
Sebenarnya ini kali ketiga aku dapet kesempatan melihat danau Kelimutu dari atas, cuma kesempatan sebelumnya aku cuma melihat tidak mengambil gambar. Yang aku ingat, waktu kedua kali, waktu itu sudah sore dan suasana sudah agak gelap dan ada seorang perempuan muda Jepang yang ada di pesawat yang saat itu berada di sisi yang tidak bisa melihat danau. Karena mungkin ini kesempatan langka baginya, maka aku memberikan kursiku sementara supaya dia bisa mengabadikan danau Kelimutu. Biar foto itu menjadi kenangan mengesankan tentang alam Flores. Aku masih ingat habis itu beberapa kali dia menngangguk sambil ngomong apa aku gak paham dengan senyum lebar, matanya yang sipit jadi tambah sipit hahahaha.
Baca keseluruhan artikel...

Kamis, 02 Februari 2012

Ende-Nagekeo Part III



Segelas Kopi di Tengah Rintik Gerimis
"Tidak sedang terburu-buru kan? Kita mampir minum kopi ya", ucapan yang tak usah diulang dua kali kukira. Siapa akan menolak ajakan ini. Gerimis lebih sering menemani sepanjang jalan namun di pertengahan tanjakan melewati Nangaroro tiba-tiba titik air mulai bertambah banyak. Untung kami lebih dulu sampai di kedai sebelum hujan datang lebih lebat.
Kopi panas segera memenuhi meja yang kami duduki. Aku yang biasanya tidak minum kopi melupakan kebiasaan itu. Segelas kopi di tengah rintik gerimis seperti ini terlalu sayang dilewatkan. Posisi kedai ini cukup menyenangkan, sayang sekarang tidak ada jagung rebus padahal aku berharap sekali itu menjadi teman minum kopi.
Kopi yang disajikan agak terlalu manis, tapi tak mengapa. Aku tiba-tiba teringat suguhan kopi di rumah pak Ndus waktu mampir rumahnya setelah foto-foto. Kopinya yang nikmat membuat aku lupa telah duduk di kursinya lebih dari tiga jam.
Masing-masing larut dengan cerita masing-masing, tapi diseberang sana seorang laki-laki nenghisap sebatang rokok dengan asyiknya. Peminum kopi yang tahu cara menikmati kopi, tangannya sendiri lincah berpindah-pindah dari sebuah handphone dan ipad. Sepanjang jalan aku memang sempat memperhatikan matanya yang gelisah mencari sinyal karena di sepanjang jalan sering terjadi blank spot. Sekarang dia baru menikmati kegembiraannya, lelaki yang tak bisa sejenak melepaskan informasi. Aku tidak sedang menilainya tapi sedang mengamati caranya menikmati kopi dan hidupnya.
Aku tak perlu menilainya lebih jauh karena kopi terlalu sayang dibiarkan. Beberapa pohon Cendana yang berbuah telah matang buah-buahnya berwarna hitam kecil memenuhi seluruh ujung ranting. Kupikir aku bisa mencoba menanamnya saat kakiku sigap menuruni turunan di bawah bangunan kedai.
Segelas kopi hari ini kehilangan teman setianya: jagung rebus dan ubi goreng.


Nangateke Masih Sama
Hujan hampir saban hari mengguyur kota Mbay, menyisakan pantulan-pantulan kala malam. Hari pertama, hari kedua dan hari ketiga masih sama semua punya alasan yang sama untuk tidak keluar atau dengan kata lain tak ada alasan untuk keluar. 
Rumput-rumput di perbukitan Mbay memang sudah hijau tapi belum cukup rata hijau seperti biasanya. Tapi tampaknya bukit-bukit itu akan segera berubah. Pagar-pagar kayu yang biasanya tidak sekarang mulai ditanam mengelilingi bukit-bukit itu. Ah, seandainya bukit-bukit itu tidak ada yang punya.
Mungkin masih ada bukit yang lama baru akan dipikirkan pemiliknya untuk menambahkan pagar. Dan sekarang arah tujuanku dan Eddy melesatkan motor, Nangateke. 
Ini hari ke empat untukku, mendung masih tampak setia memenuhi langit. Tapi kata para maestro foto, siapa yang bisa menebak senja bahkan pada 10 detik berikutnya. 
Motor melewati kawasan hutan bakau yang makin terbuka, sepertinya bakal diubah menjadi tambak. Tampak menyedihkan seolah tak ada tempat lain yang bisa mengantikan. Motor terus melaju melewatkan jembatan batu di pantai Nangateke. Jembatan batu memang bisa sangat menarik apalagi untuk memotret orang tapi bukan itu tujuanku sekarang.
Di arah ujung tanjakan yang menikung aku dan Eddy memarkirkan motor. Langit belum berubah masih setia kelabu dengan sedikit aksen alur awan akibat angin namun binatang-binatang kecil yang hinggap di semak-semak memancing mata.
Benar perbukitan ini belum berubah, rumputnya pun masih sombong tegak menghijau entah kapan akan memudar kuning memanjang dan menunduk. Aku bahkan terkesan saat rumputnya mengering bukan coklat tapi memutih, hanya kadang harus adu cepat karena saat itu padang-padang rumput seperti ini sering kali dibakar. Supaya tumbuh rumput baru lebih cepat, katanya.
Langit tidak seperti kata maestro masih dengan warna yang sama, tidak juga 10 detik atau 10 menit. Jika ada nyala merah sesaat itupun hanya tersisa sesaput angin untuk memberitahukanku malam mulai merangkak. Nyamuk-nyamuk berpesta pora memenuhi kakiku yang bercelana pendek.


It's an Accident or Something: Bola
Bulan-bulan begini ombak sedang kencang, di beberapa tempat kadang tak menyisakan jeda tenang. Tidak mengherankan di wilayah timur seperti ini, BMKG dengan mudah bisa mengeluarkan peringatan badai dan larangan melakukan pelayaran. Aku jadi ingat Pantai Nangapanda, karang yang menjorok ke daratan itu menarik perhatianku. Sepertinya saat ini waktu yang tepat untuk melihat ombak yang terhempas tinggi membentuk karang.
Aku dan Eddy memulai perjalanan kembali ke Ende dengan motor sekaligus menjadikan suatu memori yang tak pernah hilang.
Selepas tikungan belum lebih dari sepertiga perjalanan saat lepas dari tanjakan aku melewati jalan di samping lapangan. Saat itu Eddy agak melambatkan motor karena di sepanjang jalan banyak kendaraan. Tampaknya bakal ada keramaian sebuah gereja di seberang lapangan.  Tiba-tiba seorang anak menendang bola dan terlepas ke tengah jalan. 
Entah apa hubungannya aku sama bola tapi aku cuma berharap roda kami tidak mengenai bola atau jika harus kena maka bola yang kami lindas tak lebih dari bola plastik.
Saat aku merasakan perasaan menekan sesuatu yang lunak dan berikutnya terasa melampung aku menyadari bahwa semua harapanku salah. Semua sudah terjadi, motor terbanting setelah sesaat menyentuh tanah.
Aku masih sadar sepenuhnya bahkan saat dunia tampak berputar-putar dan aku terhenti di seberang jalan sementara aku melihat Eddy jatuh tertelungkup di bawah motor. Tangan dan lututku terasa kebas tapi aku tidak terluka sedikitpun. Eddy yang harus rela mendapat luka di lutut dan tangan. Tas kamera pun tergores panjang tapi justru membantu dia terhindar dari luka yang lebih banyak. Orang-orang mengerumuni kami tapi sayang tak ada satupun memiliki apa saja untuk membantu luka Eddy, akhirnya seseorang yang dikenal Eddy membantu mengurangi lukanya dengan menyiramkan bensin di tangan dan lututnya.
Sekarang giliran aku di depan, menerobos hujan menuju ke rumah bapak kecil Eddy yang rumahnya ada di kampung sebelah. Aku dan Eddy sampai di rumah dalam kondisi cukup basah. Untung ada tanaman Pinahong di depan rumah, aku membantunya menggerus daun-daun merambat itu untuk di tempel di lukanya.
Sekarang aku di antara dua pilihan menunggu kendaraan untuk menjemput (menunggu sampai malam) atau meneruskan perjalanan. Karena langit sudah berubah menjadi gerimis kecil akhirnya aku dan Eddy memutuskan melanjutkan perjalanan. Sekarang luka-luka itu menjadi lengkap: bensin, pinahong, air hujan dan angin.
Sampai sekarang ada yang mengganjal di benak Eddy, kenapa kami jatuh karena bola. Apa hubungannya dengan bola? Satu-satunya yang jelas sampai saat ini adalah kami berdua bukan maniak bola.


Pantai Nangapenda: Ini Seharusnya
Kenekatan aku dan Eddy ternyata masih membawa hasil. Belum terlalu gelap sampai di Nangapenda walaupun dalam perjalanan sebenarnya masih banyak was-was mengingat motor habis jatuh dan medan jalan sedang ada pekerjaan sehingga jalan penuh dengan lumpur. Gak keren kalau aku dan Eddy harus jatuh kedua kali.
Aku dan Eddy sampai sekitar jam enam sore lewat sepuluh menit, posisi matahari yang sedang condong ke selatan memang membuat bulan-bulan ini siang lebih panjang. Jalan menuju ke bawah yang sangat curam biasanya membuat kami harus turun pelan-pelan tapi sekarang harus jauh lebih hati-hati karena Eddy tidak memungkinkan memegang tanaman di sekitarnya untuk berpegangan.
Langit memang masih menyisakan mendung yang cukup menghalangi matahari untuk sedikit berbagi sinar terakhirnya ke kami. Jadi aku harus merela mendapatkan sisa sinar yang masih cukup terang di ujung barat.
Cuaca tidak sedang badai namun tinggi ombak lumayan, beberapa kali hempasan ombak melenting melampaui kepala mungkin lebih dari 4 meter.
Memotret dalam kondisi ombak besar memang menyenangkan sekaligus menegangkan, walaupun perhitungan awal ombak tidak akan naik setinggi itu tiba-tiba saja bisa muncul ombak yang datangnya hampir dua kali lipat. Saat itu aku harus merelakan tripod terkena air laut, hanya kamera yang harus segera dilindungi.
Dengan tangan terluka dan dibalut kain, Eddy juga tetep mencoba memotret padahal memegang kamera saja tampaknya setengah mati. 
Hanya beberapa jepretan karena memotret ombak memang butuh waktu menunggu antar satu shot dengan shot berikutnya dengan baik, memboroskan shutter malah kadang jadi bumerang. Bisa jadi momen penting karena kamera malah sedang memproses gambar sebelumnya.
Aku melanjutkan jalan tapi kecepatan jauh menurun, lampu motor depan Eddy ternyata suka mati sendiri walhasil aku hanya bisa menggunakan lampu jarak pendek. 
Kerlip-kerlip lampu di kota Ende yang tampak di kejauhan baru kami capai dalam satu setengah jam perjalanan, tak apa asyik juga. Setidaknya kami punya cerita hahahaha
Baca keseluruhan artikel...

Kamis, 19 Januari 2012

Pantai Air Cina, Kupang

Tahun 2012 sudah merayap ke angka hari ke-19. Belum ada target, belum ada rencana dan belum ada harapan besar seperti juga tahun-tahun sebelumnya. Satu-satunya rencana adalah bagaimana supaya Januari ini blog tidak kosong, tapi bingung sendiri. Gara-gara sering melakukan perjalanan ulangan ke tempat sama jadi bingung mana yang sudah aku tulis mana yang belum. Jadi setelah baca kembali seluruh judul tulisan baru ingat kalau pantai Air Cina belum aku tuliskan disini. Jadi ini anggaplah tulisan pembuka untuk 2012, tak banyak foto tapi banyak momen.

Pantai Air Cina sudah banyak dikenal orang Kupang terutama yang biasa memancing dengan perahu, menurut mereka di daerah itu banyak sekali ikan-ikan ukuran besar. Di bagian yang disebut daerah Ujung Lampu, 

Perjalanan yang aku lakukan saat itu masih ada di bulan November, yang biasanya Kupang sedang dalam puncak panasnya. Berdua dengan sahabat dan juga istriku, kami menggunakan motor menuju ke sana. Berangkat sekitar jam empat sore, setengah jam kemudian baru kami sampai ke depan sebuah sekolah dimana terdapat pertigaan. Sesuai petunjuk arah beberapa orang yang kami temui, setelah melewati sekolah kami harus berbelok ke kanan memasuki kawasan perkampungan. Jalan menuju Air Cina punya jalur jalan dari tanah sehingga pada musim hujan harus hati-hati karena jalan bisa berubah menjadi kubangan-kubangan.

Beruntung sekarang baru musim kering, sehingga kami hanya berhadapan dengan debu-debu yang beterbangan terlindas roda kendaraan. Sekitar sepuluh menit kami sampai ke kawasan Pantai Cina yang biasa digunakan penduduk sekitar untuk bertanam rumput laut. Kawasan ini cukup sepi, hanya ada satu-dua nelayan yang pulang. Entah mereka habis memperbaiki dan mengecek tanaman rumput laut mereka ataukah pulang dari mencari ikan.

Kami memutuskan untuk mencari Pantai Air Cina yang terdapat lampu mercusuar, istilah penduduk sini adalah ujung lampu. Dari kawasan pantai ini tidak ada jalan pasir karena langsung berhadapan dengan karang-karang yang terjal dan runcing. Satu-satunya jalan kami harus mengikuti jalan menuju ke perkampungan di depan kami.

Perjalanan berikutnya walau tidak jauh tapi justru lebih sulit karena jalan menanjak banyak yang  berupa batu lepasan dan batu-batu karang runcing menganga dimana-mana. Dua kali tanjakan terpaksa istriku harus turun supaya kendaraan bisa naik ke atas. Kami juga harus menerobos jalan kecil disamping rumah penduduk yang dipenuhi belukar untuk sampai pinggir pantai. Ternyata kami hanya bisa sampai di ujung dua buah pohon Beringin besar, karena jalan di depan tampaknya makin sulit.

Akhirnya kami memarkirkan kendaraan di bawah pohon dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Lima menit kemudian kami baru sampai ke pinggir pantai. Walaupun di sekeliling disuguhi batu-batu karang yang terjal, namun kondisi pantainya yang berpasir putih dan masih asli punya potensi yang menjanjikan. Seandainya semak-semak di sepanjang jalur ini dibersihkan, pantai ini akan memiliki view pasir yang makin menarik.
Pantani di depan landai dan berombak pelan karena beberapa ratus meter dari pantai terdapat barrier karang yang menhadang ombak sehingga ombak yang sampai ke pantai tidak kencang.
Pohon-pohon asam tampak unik berdiri karena daun dan batanya tumbuh berkembang ke arah darat layaknya bonsai yang dibentuk. Di genangan air yang terjebak di batu-batu karang beberapa anak lobster lari bersembunyi saat merasakan kehadiran kami. Di sepanjang pantai ini juga dengan mudah ditemukan tanaman laut dengan terumbu-terumbu kecil.

Beberapa ratus meter ke arah barat, kami melihat sebuah bangunan tinggi mercusuar. Di sini kami menemukan kawasan pasir yang bukan terdiri dari pasir tapi batu-batu bulat sebesar merica. Sayang matahari masih asyik bersembunyi di balik awan sampai senja tenggelam, hanya bias-bias kuning merah dan bayangan kemilau di air yang kami dapatkan hari ini.
Baca keseluruhan artikel...

Jumat, 30 Desember 2011

Tanah Lot, Uluwatu dan Dream Land

Lebih dari setahun lalu perjalanan ini aku lakukan, menurut catatan album foto yang aku buat perjalanan ini aku lakukan pada tanggal 3-4 November 2010. Awalnya aku pikir sudah menuliskan perjalanan ini ternyata setelah aku telusuri di blog tidak ada, rupanya perjalanan yang ini terlewatkan.
Bali... bukanlah hal asing bagi orang Indonesia bahkan orang dari luar pun lebih mengenal Bali dibanding Indonesia sendiri. Mungkin itu pula yang membuat aku agak ragu menuliskan tempat ini, karena banyak orang yang sudah mengenalnya bahkan mungkin lebih tahu daripada aku yang cuma mampir tak lebih dari seminggu.
Kalau bukan karena bareng teman dari Bali, belum tentu aku sampai ke tempat-tempat ini. Nyoman yang kebetulan mendapatkan penugasan tugas bareng aku ke Denpasar. sebagai orang Bali yang tentu mengenal baik seluk beluk Bali, Nyoman dengan mudah bisa mencarikan waktu yang tepat untuk berjalan-jalan tanpa harus menggangu penugasan.
Dalam waktu dua hari perjalanan, aku sempat mengunjungi tiga lokasi yang cukup dikenal. Bukan kesempatan yang buruk mengingat waktu itu di Bali sendiri hujan sudah turun.


Pura Tanah Lot
Rabu sore, sepeda motor yang aku naiki bersama Nyoman meliuk-liuk menerobos kesesakan jalan Denpasar menuju ke arah Tabanan. Untung kami menggunakan motor karena mobil-mobil tampaknya harus rela bergerak pelan-pelan seperti gerakan naga yang malas.
Setelah sekitar 40 menit duduk di atas jok motor, akhirnya aku bisa bernafas lega setelah sampai. Sedikit terkejut karena di depan lokasi parkir aku sendiri nyaris tidak bisa mengenali lagi. Bangunan tempat pedagang pakaian, minuman dan cindera mata memenuhi sepanjang areal perparkiran. Lagi-lagi keberadaan Nyoman sangat membantu, dengan lincah dia mengajakku menelusup di antara bangunan para pedagang. 
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore lewat 30, namun cuaca yang agak mendung membuat suasana terasa temaram waktu aku sampai di Pura Penyawang. Dari samping Pura tampak view Pura Tanah Lot yang saat itu airnya sedang naik agak tinggi sehingga ora tidak bisa sampai ke sana.
Sebenarnya yang dimaksud Pura Tanah Lot adalah Pura yang berdiri sendiri di atas batu karang yang terpisah sendiri. Sedangkan kawasan wisata Pura Tanah Lot sendiri terdiri beberapa pura, salah satunya ya Pura Penyawang yang berada di bibir pantai.
Ada juga Pura Jero Kandang yang menurut kepercayaan digunakan untuk masyarakat yang ingin berdoa bagi tanaman atau binatangnya. Atau Pura Enjung Galuh yang letaknya di puncak bukit karang sebelah kanan dari Pura Tanah Lot, yang menurut informasi digunakan sembahyang masyarakat yang menginginkan kekayaan/kesejahteraan.
Sayang waktunya tidak tepat untuk turun ke bawah, padahal aku sudah mendengar tentang keberadaan gua-gua yang ada dibagian bawah Pura Tanah Lot yang dipenuhi dengan ular laut yang sangat beracun. Ular laut yang berbentuk tipis dengan warna hitam berstrip kuning ini dipercayai sebagai penjaga Pura Tanah Lot dari roh jahat dan penganggu.
Waktu memotret Pura Tanah Lot dari bagian atas aku bertemu dengan Alex, orang Bali peranakan China yang saat itu sedang jalan-jalan. Dia menyapaku lebih dulu, dan dari perkenalan baru kutahu kalau dia tertarik dengan kamera Fuji S200 EXR yang aku bawa karena dia juga sedang memegang kamera Fuji HS10 EBC. Alex agak surprise dengan beberapa peralatan yang aku bawa, karena menurutnya selama ini kamera seperti itu tidak bisa ditambah apa-apa lagi. Beberapa kali dia minta aku memotret dengan menggunakan memori dia, juga dia sempat meminjam beberapa filter yang aku bawa. Dari Alex aku diajak ke sisi selatan dari Pura Tanah Lot, rupanya dia mengajakku ke arah Nirwana Resort. Dari sini memang aku mendapatkan view yang cukup berbeda walaupun jaraknya agak jauh dari Pura Tanah Lot.


Legian, Ground Zero dan Pantai Kuta
Malam setelah dari Pura Tanah Lot aku dan Nyoman sempat berjalan-jalan memutari kawasan Legian. Awalnya memang sekedar mau mengunjungi Monumen Bom Bali yang terletak di daerah Ground Zero. Monumen yang biasa disebut dengan Monumen Bom Bali, didirikan di bekas tanah yang pernah menjadi pusat ledakan bom Bali. Di monumen itu tertulis daftar nama-nama orang yang tewas menjadi korban ledakan. Tampak beberapa bunga-bunga segar yang diletakkan di depan monumen yang ditaruh orang-orang yang mengunjungi tempat ini sebagai tanda ikut berduka.
Sekarang kawasan ini sudah tampak ramai kembali, tidak seperti beberapa tahun sebelumnya paska peledakan yang nyaris meruntuhkan kebesaran Bali sebagai daerah destinasi wisata. Tapi tentu saja keramaiannya belum pulih benar. Kawasan ini hampir dipenuhi klub dan cafe yang bertebaran di sepanjang jalan berhimpitan dengan beberapa bangunan kecil yang menjajakan souvenir dan cendera mata khas Bali. Aku sendiri nyaris bingung apakah sekarang masih di Indonesia atau tidak, karena kawasan Legian sudah lebih didominasi bule, suasana hingar bingar dan dentuman musik terdengar memekakkan telinga.
Di pertigaan jalan menuju Pantai Kuta, beberapa orang mendatangi aku dan Nyoman dan menawarkan sesuatu. Aku tidak terlalu mengerti maksudnya, dari Nyoman kutahu kalau mereka menawarkan barang-barang haram semacam heroin, ekstasi dan sejenisnya. Rupanya di kawasan Legian ini transaksi seperti ini hal yang biasa, istilahnya illegal namun secara terselubung dibiarkan. Menurut informasi, transaksi seperti dibiarkan salah satunya untuk mendongkrak pariwisata entah benar atau tidak, namun jangan coba-coba bertransaksi di luar kawasan ini.
Berbeda dengan kawasan Legian, Pantai Kuta justru malam ini terasa sangat tenang. Musik hanya sayup-sayup terdengar dari Planet Hollywood di seberang jalan. 
Kesanku tentang kawasan Legian ini bukanlah kawasan menarik, terutama backpacker yang menyukai keunikan dan keindahan Bali. Disini justru serasa didamparkan pada wajah asing di tanah Indonesia.


Pura Uluwatu dan Pantai Dreamland

Setelah esoknya dari Pura Tanah Lot, hari Kamis kami memiliki waktu lebih longgar karena siang sudah dilakukan penutupan acara. Karena setelah hari ini kami harus membiayai biaya penginapan kami sendiri, aku memutuskan untuk berpindah hotel. Selain faktor tarif hotel yang terlalu tinggi aku juga memikirkan faktor kemudahan untuk bergerak.
Siang setelah meletakkan tas bawaan di hotel, aku dan Nyoman kembali meluncur. Kali ini arah tujuanku adalah ke Dreamland. Searah dengan pantai Dreamland dan masih berada di lokasi Jimbaran, karena masih agak siang aku memutuskan meneruskan perjalanan ke daerah Uluwatu.

Aku sampai di Pura Luhur Uluwatu selepas lewat jam dua siang, suasana terasa sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang sedang sibuk dipakaikan selendang. Katanya, semua orang yang masuk ke dalam pura harus menggunakan selendang sehingga aku pun ikut memakainya. Begitu masuk pertama ke dalam, serombongan monyet menyambut mataku tapi mereka tidak mengganggu hanya melihat kami dari pinggir beton pembatas. Sekali dua melintas monyet yang sedang menggendong anaknya.
Pura Luhur Uluwatu didirikan di atas karang yang sangat tinggi. Dari pinggir pagar, tampak deburan ombak pantai Selatan yang keras menghantam batu-batu karang jauh di bawah. Karena tertarik view yang menarik, aku nekad saja keluar dari pagar. Nyoman geleng-geleng saja dengan tingkahku, apalagi penjaga pura juga membiarkanku cuma mengatakan kalau berani keluar pagar risiko ditanggung sendiri.
Sebenarnya cukup bikin ngeri juga berdiri di tepi tebing karang yang begitu tinggi, apalagi karang ini berupa rekahan yang aku tidak tahu bisa terlepas atau tidak. Menelusuri sisi samping tebing kami sampai di bagian terakhir pura, ada sebuah warung tenda kecil, sebuah kebetulan saat kami sudah merasa demikian kehausan. Maklum kami kelupaan membawa bekal padahal tidak ada pedagang di depan pura.
Setelah mulai sore, aku dan Nyoman meluncur ke arah Pantai Dreamland. Ternyata untuk ke Dreamland kami harus masuk ke arah resort yang dibangun dengan meratakan perbukitan di sini. Perjalanan menjadi mudah, karena informasi awal bahwa untuk ke Dreamland kita harus berjalan kaki menaiki bukit yang cukup lama.
Pantai Dreamland memang indah, pasir putih membentang di sepanjang pantai. Sayang pada bulan-bulan ini ombak tidak terlalu besar padahal salah satu yang menarik disini adalah ombaknya yang besar sehingga pantai Dreamland salah satu favorit untuk surfing. Sayang ada bangunan hotel dan club yang berdiri di pinggir pantai dengan jarak sangat dekat. 
Baca keseluruhan artikel...

Kamis, 29 Desember 2011

Ritual Adu Fisik Ala Nagekeo

Pertarungan fisik selalu selalu diidentikan dengan simbol keperkasaan seseorang. Mungkin jika ada yang kalah , lantas berdarah-darah, semua orang mencemoohkannya. Atau jika sang pemenang mengangkat kedua tangan sebagai tanda kemenangan, sontak yang menonton langsung bertepuk tangan, semuanya larut dalam suasana saling cibir, atau saling mengangungkan sang jagoan. Cerita selanjutnya bisa jadi yang kalah akan menyimpan dendam yang teramat sangat, atau sebaliknya malah penonton yang saling bertarung.
Namun,cerita seperti itu tidak akan terjadi jika sang jagoan berlaga dalam arena “Etu”, tinju adat di masyarakat Nagekeo, sebuah kabupaten baru mekaran dari kabupaten Ngada pada tahun 2006 silam. Bagi masyarakat suku Nagekeo yang berada tepat ditengah pulau Flores - Nusa Tenggara Timur ini, etu  adalah simbol keakrabaan dan persaudaraan.
Etu  adalah kesenian tradisional yang memperagakan adu ketangkasan antara para pria dewasa diwilayah persekutuan adat Nagekeo dan sekitarnya. Permainan adu ketangkasan ini selain merupakan arena pentas kesenian tetapi juga merupakan ritual adat untuk melengkapi siklus kehidupan masyarakat adat Nagekeo.
Menurut salah satu pemuka adat Nagekeo dikampung Boawae, Cyrilus Bau Engo, etu telah dipentaskan sejak puluhan tahun silam secara turun temurun. Namun, tidak ada satu sumber pun yang menyebutkan secara pasti sejak kapan etu mulai dipentaskan. Diperkirakan, kegiatan ini mulai dipentaskan sejak masyarakat persekutuan adat tidak lagi terlibat dalam perang antar suku (papa wika). Ada versi yang menerangkan bahwa kegiatan ini dibuat sebagai salah satu persembahan darah kepada bumi (ibu pertiwi), sehingga bukan hal yang baru jika ada petinju yang keluar dari arena dengan wajah lebam bardarah-darah. Diyakini oleh mereka, luka yang diderita akan segera sembuh jika di sentuh oleh tabib kampung.
Jika dikaitkan dengan kelender adat, etu biasa dipentaskan pada musim kemarau, atau pada masa senggang sesudah panen. Selama masa itu, etu dipentaskan pada beberapa kampung adat yang memiliki adat tinju yang dipegang salah satu suku yang mendiami kampung tersebut dan biasa disebut “moi buku ‘etu” (pemegang adat tinju). Giliran antar kampung ditentukan waktunya sesui perhitungan yang mendasarkan pada peredaran bulan sehingga etu selalu dipentaskan pada saat bulan purnama.
Para petarung akan memasuki sebuah arena ditengah kampung yang disebut “kisa nata”. Arena ini dibatasi oleh pagar dari tonggak kayu yang dirangkaikan dengan tali sehingga menjadi semacam ring tinju berlantai tanah yang dalam bahasa adat disebut “mada”  Mada membujur sesuai dengan tata letak kampung adat. Penonton yang menyaksikan etu berdiri diluar mada. Jangan berharap perempuan ada didalam mada, karena sudah tentu itu adalah hal yang “pamali” bagi sang petinju.
Jelang beberapa hari pada saat bulan terang sebelum tinju, digelarkan kegiatan pemanasan dan ajang latihan bagi petinju – petinju pemula, sekaligus pengumuman bahwa di kampung tersebut akan digelarkan etu. Selanjutnya, malam menjelang etu dipentaskan, seluruh masyrakat adat menggelar tarian dan nyanyian.  Rangkaian kegiatan ini adalah ungkapan yang menggambarkan tentang budidaya tanam padi sejak kerinduan menantikan kedatangan hujan sampai saat panen.  Menariknya, dalam tradisi ini , kaum muda mudi dapat menjadikannya sebagi ajang perkenalan. Sang pemuda akan melempar pantunnya, yang kemudian akan dibalas oleh sang pemudi. Sepanjang malam, kaum tua dan muda akan larut dalam tarian dan nyanyian.
Pagi – pagi sekali, pemegang adat tinju dan seluruh anggota suku yang laki – laki pergi ke “loka lanu” yaitu tempat berkumpul untuk menyampaikan persembahan kepada Tuhan dan para leluhur sambil memohon keselamatan bagi para petinju, sehingga para petinju yang terluka cepat sembuh dan dalam kenyataannya, luka karena bertinju adat, paling lama tiga hari sudah sembuh. Sesudah upacara persembahan dan doa di loka lanu mereka akan menuju kampung sambil menyanyi dan menari. Sampai dikampung akan melakukan semacam seremoni pembukaan dengan pura – pura bertinju dengan seseorang sebagai tanda bahwa acara tinju dapat dimulai.
Para penonton mulai berdatangan. Tidak sampai satu jam, arena etu sudah dipadati para penonton dari berbagai penjuru kampung. Ada juga yang datang dari luar kampung. Kebanyakan dari mereka memakai sarung adat, sedangkan kaum lelaki mengenakan ikat kepala. Disini, penonton tidak perlu ragu kemana harus mencari pengganjal perut jika lapar. Hidangan cuma-cuma akan diberkan kepada siapapun yang datang. Masayrakat adat di sekitar kampung akan menjemput dan mengajak kita menikmati makanan yang telah disiapkan disetiap rumah.
Kedua petinju pun mulai diperhadapkan oleh “Moi Seka”. Orang inilah yang akan bertindak sebagai wasit, sekaligus juri. Tidak seperti petinju yang kebanyakan kita tonton, disini para petinju akan dipasang kain pengalas dada, ikat pinggang dari kain, dan ikat kepala. Yang terakhir adalah alat meninju lawan atau dalam bahasa setempat disebut “Keppo”. Tidak seperti sarung tinju para profesional, alat gebuk ini berupa tali ijuk yang dipilin kecil-kecil, selanjutnya digumpal kira-kira pas dalam genggaman. Permukaan keppo kasar, siapapun yang terkena pukulan benda ini pasti akan berdarah.
Penonton semakin tidak sabar menjejal di sekitar arena. Dari ujung arena, sang petinju mulai kelihatan. Petinju ini akan dikawal oleh seorang “Moi sike”. Dia  berfungsi menjaga agar petinju tidak jatuh dan kadang kala bisa membantu menangkis pukulan yang diarahkan ke arah perut petinju. Orang ini harus lincah mengikuti gerak gerik petinju ketika menyerang maupun menghindari pukulan lawan. Moi sike harus maju dan mundur seirama dengan petinju.
Kedua petinju mulai merengsek maju ketika wasit menepuk tangan. Satu dua pukulan mulai dilontarkan, jauh dari kesan seorang petinju profesional. Moi sike terlihat kerepotan menarik kain pinggang masing-masing petinju ketika mereka mulai terbakar emosi. Sebuah pukulan telak berhasil didaratkan salah satu petinju di wajah lawan. Wasit langsung memisahkan keduanya. Petinju yang berhasil mendaratkan bogem mentahnya terlihat bangga, sambil melompat-lompat kegirangan, sesekali menepuk dada. Pihak lawan tak puas. Pertarungan kembali dilajutkan. Jual beli pukulan terjadi. Pelukan, saling tarik, menambah panas suasana. Teriakan penonton semakin membakar emosi sang petarung. Wasit pun tidak mau ambil resiko, pertandingan pun diakhiri. 

Seorang petinju dinyatakan sebagai pemenang. Kedua petinju di giring oleh sang wasit. Disini jelas kelihatan semuanya akan berakhir dengan perdamaian. Kedua petinju saling berpelukan. Luka dan darah di wajah ternyata bukan pemicu dendam di luar pertandingan. Sorak penonton mengiring sang jagoan keluar dari arena.”Kami bertinju untuk berdamai”, ujar sang petinju sambil melambaikan tangannya kepada penonton.
Pertarungan berikutnya mulai dipersiapkan. “Mosa laki” mulai melirik para pemuda di masing-masing kubu petinju.. Mereka ini ibarat “promotor” yang mencari para petinju yang ingin mengadu ketangkasan sebagai petinju adat di tengah arena. Biasanya ada jago tinju dari masing-masing kampung. Kejelian para mosalaki lah yang mempertemukan mereka di tengah arena. Caranya macam- macam, mulai dengan membujuk secara baik-baik, memanas-manasi bahkan kadang-kadang dipaksa dan diseret  ke “ring”.
Pada saat mosa laki sedang mencari petinju dan para pembantu menyiapkan petinju untuk tampil di arena, masyarakat dihibur dengan kesenian “melo ‘etu”. Ini adalah kesenian rakyat yang terdiri dari tarian dan nyanyian diiringi tetabuhan dari sebatang bambu yang diletakan didepan sekelompok penyanyi lagu adat sambil memukul – mukulnya dengan batang kayu. Mereka akan bernyanyi bersahut – sahutan dengan seorang penari yang berfungsi sebagai solois dan dirigen . Syair lagu berisikan kata – kata pujian dan nasihat bagi para petinju. Pada saat petinju sedang bertinju, rombongan melo etu  beristirahat. 
Kegiatan tinju dan melo etu akan terus digelarkan secara bergantian sampai tidak ada lagi petinju yang mau bertinju. Hari menjelang senja, sesepuh adat menyiramkan satu tempurung air ke tengah-tengah arena sebagai tanda orang harus bubar dan kembali ke kampung masing-masing untuk nonton lagi ke kampung-kampung lain yang ada adat tinju sesuai giliran waktu yang sudah ditentukan sesuai peredaan bulan.


Selamat Menyaksikan!


Terimakasih buat warga kampung Boawae dan Bapak Cyrilus Bau Engo atas semua informasi dan penjelasannya mengenai "ETU".


Seluruh isi tulisan dan photo telah mendapatkan persetujuan dari pihak penyelenggara ETU untuk di publikasikan. Foto-foto diambil oleh Yanto Mana Tappi pada bulan Oktober 2011 saat ETU dikampung Boawae-Kabupaten Nagekeo-Nusa Tenggara Timur 
Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya