Tulisan dan foto di blog ini boleh didownload digunakan dalam materi situs non-komersil dengan mencantumkan sumber asli materi. Mari hormati karya cipta mencantumkan sumber asli materi.

Jumat, 21 Juli 2017

Air Terjun Mauhalek: Juara!

Mauhalek Waterfall
Aku duduk di atas sebuah batu sambil menatap ke atas, ke arah sumber suara gemuruh bunyi air yang jatuh ke bawah membentuk sebuah pemandangan yang orang bilang air terjun. Mataku bisa menangkap beberapa pria muda dengan hanya celana pendek mencoba naik dari sela-sela batu menuju ke atas. Pria-pria muda sedang menikmati memacu adrenalinnya. Terlalu berbahaya sebenarnya, tapi siapa yang bisa melarang mereka naik ke atas. Penjaga hanya ada di pintu masuk di tepi jalan yang jaraknya masih 800-meteran jauhnya. Aku mulai bersiap-siap saat awan mulai bergerak pelan menutupi matahari. Momen siang seperti ini memang repot untuk memotret air terjun karena terlalu banyak spot yang bocor. Maka untuk mendapatkan gambar yang tidak terlalu buruk, aku bergantung sama kebaikan awan yang mau menutupi sebentar sinar pagi. Walau tetap saja, tidak akan mengalahkan cantiknya cahaya pagi matahari yang kekuningan. Itulah alasan aku lebih suka mendatangi lokasi-lokasi seperti ini saat pagi atau sore: golden moments.

Foto bareng di air terjun Mauhalek, Belu
Dari atas sini aku bisa jelas melihat Deva yang sangat menikmati mandi di air terjun. Bahkan beberapa kerabat istriku ikut menemani bermain air bersama Deva. Gara-gara dia berendam, akhirnya anak-anak kecil yang lain ikut nyebur juga. Dinginnya air terjun yang berada dikaki gunung Lakaan pasti tidak dirasakannya, maklum cadangan lemaknya banyak. Tidak terlalu ramai menurutku, mungkin karena lokasi tempat ini yang belum banyak dikenal orang. Atau cerita banyak orang yang masih menganggap kalau ke air terjun Mauhalek itu susah medannya.

Perjalanan naik ke atas saat mau makan siang itulah yang bikin barisan mak-mak nafasnya tinggal satu-satu padahal jaraknya tidak jauh. Bahkan dari tempat parkir kendaraan, air terjun Mauhalek masih dapat jelas dilihat. Berbeda saat turun ke air terjun yang pada semangat karena jalan setapak yang telah dibeton menurun terus, maka saat kembali artinya harus menikmati jalan naik terus. Deva yang turun semangat pun, harus disemangati untuk naik ke atas. Perut gendutnya sekarang jadi beban tambahan.. Ayo nak, semangatttt...

Suasana riuh pengunjung masih terdengar di bawah, semakin siang semakin ramai yang datang. Untung lopo utama sudah tidak ada penghuninya jadi bisa kami pakai. Lopo bulat dengan empat tiang khas lopo pulau Timor pun gak kalah ramai dengan suasana di bawah. Gemuruh air dan pemandangan air terjun masih tampak dari tempat aku duduk menjerang air yang tak kunjung memanas. Senang aku melihat Deva menikmati perjalanan kali ini, walaupun komunikasinya masih kalang kabut. Dia bicara dengan bahasan dan logat Inggris-nya sementara yang lain dengan bahasa Indonesia dan logat Belu-nya.

Ya, hari ini aku wisata bareng keluarga kakak perempuan istriku di Atambua. Salah satu alasan aku tidak membawa tripod saat diajak mudik ke Atambua, kupikir kita hanya akan pergi ke tempat-tempat biasa. Bakar ikan, sekedar duduk-duduk di pantai atau kolam susu yang penuh orang, atau apalah. Bagaimana dengan tempat wisata? Kalau ingin sekedar jalan okelah.. kalau ingin mendapatkan gambar bagus lupakan saja. Saat libur lebaran seperti ini, rasanya tidak akan ada tempat yang sepi selama masih bisa dijangkau mobil. Itu salah satu sebabnya aku kurang berminat mengunjungi tempat wisata saat libur lebaran. Kalaupun tiap tahun aku mengunjungi tempat-tempat wisata memang cenderung lebih untuk kepentingan anak-anak.

Lokasi Air Terjun Mauhalek
Air terjun Mauhalek adalah salah satu dari sedikit air terjun yang ada di pulau Timor. Mungkin karena faktor geografis dan kontur yang membuat pulau Timor tidak banyak ditemukan keberadaan air terjun. Berbeda halnya dengan pulau Flores atau Sumba yang memiliki lokasi air terjun lebih banyak.

Informasi keberadaan air terjun Mauhalek sendiri belum lama. Mungkin pula karena itu tak banyak orang yang tahu saat aku menanyakan keberadaan air terjun Mauhalek ke masyarakat Atambua. Untung ada keponakan yang kerjanya di PLN bagian lapangan yang ngurusi tower-tower tegangan tinggi jadi banyak tahu wilayah-wilayah terpencil.

Air terjun Mauhalek ini terletak di dusun Fatumuti, desa Raiulun. Desa Raiulun ini masuk kecamatan Lasiolat yang artinya wilayah ini terletak di wilayah kantong yang dikelilingi oleh wilayah Timor Leste. Berada di bawah kaki gunung Lakaan, daerah sekitar air terjun Mauhalek tergolong sejuk. Gunung Lakaan adalah gunung tertinggi kedua di Tanah Timor setelah gunung Mutis.

Gunung Lakaan sebenarnya tujuanku jika bukan libur Lebaran, tepatnya di daerah Fulan Fehan yang terkenal dengan lokasi Benteng Tujuh. Mungkin lain waktu aku akan kembali mengunjungi Fulan Fehan sekaligus mengunjungi kembali air terjun Mauhalek.

Kondisi jalan ke Mauhalek tidak terlalu sulit walau perjalanan selama satu jam penuh dengan tikungan dan tanjakan karena sudah sebagian besar jalan sudah beraspal. Tapi memang saat ini separo jalan sisi kanan dan kiri di banyak ruas sedang digali hampir sedalam satu meter untuk pemadatan dan pelebaran jalan. Beberapa bukit juga sudah mulai dipotong untuk mengurangi tinggi tanjakan. Tanah kecoklatan akhitnya membuat jalanan penuh debu. Balik dari Mauhalek itu mobil sudah sama warnanya dengan tanah. Mungkin kalau pekerjaan jalan sudah selesai, lokasi Mauhalek bisa ditempuh tak lebih dari setengah jam karena jaraknya tak lebih dari 30km.. beberapa orang mengatakan kalau jaraknya hanya 24km. Ah di tanah Timor itu bukan kilometer yang penting tapi berapa lama sampainya.

Pendapatku tentang Tempat Ini
Aku datang dalam kondisi air terjun sudah tidak terlalu besar debitnya. Airnya dari atas tidak langsung jatuh lurus tapi tapi jatuh ke lapisan batu di bawahnya sehingga pecah menjadi aliran-aliran yang lebih kecil. Kondisi itu membuat air terakhir jatuhnya tidak kencang. Karena itu batu-batu diantara air terjun ditumbuhi lumut dan tanaman-tanaman kecil.

View ini membuat pemandangan air terjun Mauhalek jadi indah dan mudah untuk diambil foto bahkan dari dekat sekalipun. Ini beda dengan tempat-tempat yang air terjunnya jatuh lurus ke bawah yang biasanya menciptakan uap air yang naik jauh ke udara membuat kamera mudah terkena uapnya. Sepertinya saat debit air terjunnya lebih kencang juga tidak akan membuat uap air yang terlalu tinggi.

Jika bersedia datang pagi sepertinya bisa menghasilkan foto air terjun yang juara.. sepertinya aku harus datang lagi kesini pagi-pagi sekali untuk mendapatkan momen terbaik. Apalagi saat pagi biasanya masih jarang orang yang datang. Paling-paling penduduk sekitar yang mau ambil air.

Jadi untuk pemandangan air terjunnya juara lah apalagi untuk difoto. Lain lagi dengan fasilitas pendukungnya. Jalan dari parkir menuju air terjun memang sudah dirabat beton, juga sudah ada sekitar tiga lopo yang dibangun, dan satu tolilet umum yang lebih sering terkunci. Yang agak mengganggu adalah bangunan toilet yang diletakkan pas di depan air terjun sehingga mengganggu pemandangan dari kejauhan. Di beberapa belokan juga harus hati-hati karena tidak dibangun pagar pengaman.

Baca keseluruhan artikel...

Rabu, 19 Juli 2017

Overland ke Tana Toraja

"Bu, packing baju buat tiga hari ya besok kita berangkat", kataku.
"Emang mau kemana? Ke tempat siapa?", tanya ibuku.
"Kita ke Makassar dan Toraja, jalan-jalan saja. Ibu sudah Arum belikan tiket", jawabku.

Ibuku tentu saja kaget karena beliau baru saja tiba di Jakarta setelah mengunjungi kakaknya di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Landing di Makassar larut malam. Disambut teman kami, Kartini yang menjadi tuan rumah selama kami di Makassar. Kami pun segera beristirahat karena besok pagi berangkat ke Toraja.

Pukul 6 pagi kami telah dijemput Bang Ancu, pemilik mobil yang kami sewa. Dalam perjalanan menuju Toraja, kami melewati Maros. Dari jendela mobil terlihat sinar Matahari pagi menyembul dari sela-sela hamparan batuan karst yang berjajar di kejauhan. Wah pendaran cahayanya bagus banget! Di tengah perjalanan kami melihat Jeruk Bali yang dijual dipinggir jalan. Kami mampir untuk membeli beberapa buah sebagai bekal diperjalanan.

Sampai di Pare-pare kami mampir ke sebuah warung makan untuk sarapan Coto, daging sapi/kerbau dengan kuah dari air beras yang dimakan dengan ketupat/buras. Rasanya lebih enak daripada yang biasa aku makan di Jakarta. Pare-pare kota pesisir pantai barat yang juga dikenal sebagai kota kelahiran BJ Habibie, Presiden ketiga RI.


Belakang adalah Bukit Enrekang Di depan gerbang Maros
Kami istirahat di Enrekang untuk sekedar minum kopi, makan pisang goreng dan camilan jagung goreng atau Marning biasa orang Jawa bilang. Jagung goreng ini menjadi cemilan khas Enrekang. Itu sebabnya aku lihat banyak tanaman Jagung di lereng bukit kawasan Enrekang ini.

Warung kopi yang juga menjual cenderamata/souvenir ini berada tepat di muka pegunungan. Dari sini kita bisa minum kopi sambil melihat pemandangan Gunung Bambapuang atau lebih dikenal sebagai Gunung Nona. Landscape gunung yang mengundang berbagai imajinasi. Ada yang bilang bentuknya menyerupai area pribadi kaum hawa.Tergantung persepsi masing-masing mata yang memandang. Hohoho.

Akhirnya kami sampai di gerbang Tana Toraja. Setelah menempuh perjalanan selama 7 (tujuh) jam! Wajarlah karena jarak dari Makassar ke Toraja 350 km. Pastinya kami foto-foto dulu di gerbang sebelum lanjut menuju Pallawa.

Gerimis mengiringi kami menuju Pallawa. Butiran air hujan yang disinari matahari menjadi semburat pelangi. Melihat Pelangi sebagai pertanda keinginanku terkabul. Yes! Keinginan ke Tana Toraja.

Saat tiba di Pallawa, begitu aku membuka pintu mobil, gerimisnya langsung berhenti. Ajaib! Mungkin hujannya memberi kesempatan aku untuk foto-foto.

Suasana dalam rumahDesa adat Pallawa
Desa adat Pallawa berada di kawasan Rantepao adalah desa yang masih memegang kuat tradisi dan memiliki Tongkonan  tertua di Tana Toraja. Ada 11 Tongkonan yang ada di Pallawa.

Tongkonan, adalah rumah tradisional Toraja. Bentuk bangunan yang menyerupai sebuah kapal, beratap bambu yang ditutup rumbia. Bagian atap banyak ditumbuhi tanaman liar pertanda tua/lamanya bangunan itu berdiri. Tongkonan dihiasi ukiran khas dan didominasi warna hitam, oranye, merah. Tanduk kerbau di depan Tongkonan sebagai simbol pemilik rumah telah melakukan upacara Rambu Solo/ Aluk Rampe Matampu.

Penduduk desa sebagai pemandu wisata banyak memberikan keterangan tentang bangunan Tongkonan dan adat istiadat mereka. Konon tradisi kanibal pernah dilakukan saat perang antar kampung dengan memakan dan meminum darah lawan yang kalah. Perkembangan jaman telah merubah tradisi itu dan menggantinya dengan memakan ayam yang disebut Pallawa Manuk.

Bercengkrama dengan penduduk desa yang ramah, sambil sesekali memotret kegiatannya. Anak-anak suka sekali difoto meski tampak malu-malu. Tidak lupa kami membeli cenderamata hasil buah tangan mereka, berupa asbak yang berbentuk miniatur Tongkonan, patung kakek nenek dan gelang-gelang.

Meneruskan perjalanan kami ke tebing Lemo. Lemo adalah tebing yang dijadikan makam.Di depan dinding dipasang Tau-tau, yaitu boneka-boneka kayu yang diukir sebagai personafikasi orang yang telah meninggal dan dimakamkan di sana. Patung ini hanya dibuat untuk para bangsawan.

Biasanya sebelum dimakamkan, diadakan Upacara Rambusolo/Aluk Rampe Matampu.Terlihat pintu pada tebing Lemo terbuka. Sepertinya sedang ada persiapan untuk upacara Rambu Solo. Rambu Solo dalam bahasa Toraja berarti asap yang arahnya ke bawah. Maksudnya upacara ritus persembahan ini dilakukan saat matahari mulai bergerak menurun sesudah pukul 12 siang. Rambusolo selain sebagai penghormatan kepada jenasah, juga sebagai penghantar menuju gerbang arwah.

Sayang kunjunganku hanya singkat jadi tidak bisa memotret Rambu Solo. Semoga aku bisa kembali mengunjungi Tana Toraja.

Teks dan foto: Arum Mangkudisastro
Baca keseluruhan artikel...

Selasa, 20 Juni 2017

Senja di Pantai Baliana

Pasir putihnya berubah menguning seiring matahari yang semakin turun di ufuk barat. Matahari tampak kuning membulat dibayangi langit yang semakin memerah. Pantai sore ini dipenuhi warna kehijauan di sepanjang pantainya karena sedang surut. Warna hijau itu berasal dari tanaman laut sejenis rumput menutupi batuan karang di bawahnya. Sementara itu, pemandangan yang paling jamak saat surut seperti ini adalah masyarakat sekitar yang sedang mencari keong laut. Umumnya yang melakukan ini para perempuan atau anak-anak.

Seorang gadis meneteng ember berisi keong
Bagi yang suka melihat si 'Patrick' bintang laut bakalan seneng kalau ke sini karena bintang laut di sini ukurannya besar-besar dan gampang ditemuin di antara rumput-rumput. Warnanya juga macam-macam. Cuma itu juga petunjuk kalau kawasan ini daerah terumbunya sudah rusak banyak makanya jadi banyak bintang laut.

Pantai Baliana, nama cantik yang disandang pantai ini tak membuat banyak orang tertarik mengunjunginya. Pasir putihnya memang hanya sepotong yang saat sedang puncak pasang tidak akan menyisakan apapun. Mungkin karena itu pantai Baliana cenderung sepi walaupun hari libur. Sebagian besar yang ada di pantai adalah masyarakat sekitar yang mencari keong atau kerang. Bahkan daerah karang landainya lebih luas daripada pasir putihnya, sehingga nelayan pun tidak mungkin menambatkan perahu. Kondisi pantai Baliana memang rawan membuat perahu kandas terkena karang.

Lampu cahaya mercusuar layaknya sinar matahari pagi
Ada sebuah bangunan kayu agak tinggi, ada sebuah tangga kayu untuk naik ke atasnya. Mengingatkan tentang bangunan penjaga pantai untuk mengawasi pantai hanya ini lebih sederhana, lebih terkesan bangunan darurat. Aku baru paham kalau bangunan ini berfungsi sebagai mercusuar. Ternyata ada sebuah lampu terang yang dihidupkan saat menjelang malam. Namun karena tidak ada listrik di sana, untuk menghidupkan lampu mercusuar itu digunakan mesin genset.

Sepertinya bangunan mercusuar ini dibangun swakelola masyarakat bukan milik pemerintah. Tapi entah punya siapa dan untuk apa. Mungkin juga punya PT TOM yang mengoperasikan budidaya mutiara. Dengan tiram-tiram bernilai mahal yang ditanam di perairan ini tentu rawan menarik orang untuk mengambilnya. Entahlah, mungkin aku harus bertanya ke penjaga kalau balik ke sini lagi.

Posisi pantai ini sederet arah dengan pantai Tablolong sehingga pantai ini posisinya pas menghadap matahari terbenam. Tidak tepat di horison laut karena ada pulau Semau di seberang yang menghalangi.

Perjalanan Kesana
Lokasi pantai itu cukup jauh dari kawasan penduduk, mungkin itu salah satu alasan pantai ini tidak ramai walaupun hari libur. Berjarak sekitar dua puluh tiga-an kilometer dari Kota Kupang, perjalanan menyusuri jalan sepanjang rutenya bisa dibilang mulus sampai ke jalan terakhir menurun menuju pantai.

Bahkan jalan selepas pertigaan menuju ke kawasan industri bolok bisa dibilang kosong melompong. Naik motor aja bawaannya ngantuk  karena lurus kosong itu, penghalang jalan kebanyakan berasal dari tinja sapi yang digembalakan lepas sama pemiliknya. Tapi kalaupun ditabrak juga tidak akan terasa apa-apa, paling motor jadi bau TAI!

Lokasi ini berdekatan dengan PLTU Bolok namun kalian tidak boleh melewati jalan ke arah PLTU Bolok karena jalan dari sana ke Pantai Baliana tidak ada, kalau untuk jalan kaki sih masih bisa.

Apa yang Menarik
Tempat ini bisa jadi alternatif buat lokasi foto atau sekedar santai. Obyek menarik ya motretin masyarakat sekitar yang kebanyakan mama-mama dan anak-anak yang jongkok berdiri mungutin keong. 

Penilaianku sendiri tempat ini masih enak buat didatangi karena belum ramai yang datang. Ya mungkin aku lebih menyukai pantai-pantai yang sepi walau tanpa fasilitas daripada ke pantai penuh fasilitas tapi ramai. Ya pasti satu termos kopi sudah aku bawa dari rumah. Asseeekkk.. melihat matahari terbenam sambil ngopi.

Yang pasti ini bukan lokasi yang tepat untuk berenang kecuali mungkin saat laut sedang pasang karena daerah landainya yang jauh dan dipenuhi rumput-rumput. Tapi itu membuat orang tua yang punya anak-anak akan lebih merasa aman melepaskan anaknya bermain di pantai ini. Setidaknya belum pernah mendengar buaya mampir ke tempat ini.

Atau kalau mau sabar, coba nunggu sampai langit gelap. Biasanya sebelum gelap lampu mercusuar dihidupin jadi tetep tempat ini gak gelap-gelap amat. View saat itu lebih keren dan asik dinikmati. Tapi ati-ati kalau jalan sama pasangan udah malam gak pulang-pulang bisa-bisa dicurigai mau berbuat yang aneh-aneh (saling mengorek tai hidung pasangannya pake sedotan misalnya).

Temen yang ngabisin kopiku di tempat ini ada dua mahluk: Imam Masjid Makkah Almukaromah eh bukan Imam Arief Wicaksono yang lebih familiar dipanggil boncel, sama anak yang masih kecil namun udah punya katepe dan status pekerjaan pe-en-es walau tidak ada yang yakin dengan usianya: Adisti.
Baca keseluruhan artikel...

Minggu, 07 Mei 2017

Kerennya Museum Angkut di Batu

Dari beberapa list yang ada di daftar lokasi yang harus dikunjungi, museum angkut dan museum topeng ini justru baru muncul belakangan hasil ngobrol-ngobrol gak jelas dengan driver travel setelah sampai di Batu. Awalnya aku salah mengira itu semacam museum angkutan, jadi dibayanganku adalah sebuah gedung yang isinya angkutan kota dari jaman oplet punya si mandra sampai mobil taksi online.. Pokoknya kurang asyik gitulah, museum yang sekedar buat edukasi atau orang tua yang mau nostalgia.

Tapi ternyata aku salah besar sodara-sodara.. pertama, ternyata itu museum angkut bukan cuma satu gedung. Ini kaki musti sering selonjorin buat menghilangkan rasa pegal. Bini yang jauh-jauh aku bawa dari Kupang dari mulanya excited waktu pertama ngeliat sampai akhirnya matanya jelalatan cari pintu keluar tercepat. Walhasil, setelah kakinya kram harus muterin museum angkut yang luasnya 3,8 hektar (katanya) biniku menyerah untuk melanjutkan mendatangi museum d'topeng. Gak tau, emang karena capek muterin museum angkut atau karena ngerasa horor sama suasana museum d'topeng. Kayak-kayaknya sih dia sedikit parno melihat topeng gitu. Tapi herannya kok dia gak takut gitu liat muka suaminya yang masih pake topeng hahahaha. 

Kedua, ternyata itu museum transportasi yang berarti mencakup seluruh sejarah transportasi. Jadi begitu masuk pertama kamu bakalan disuguhi pemandangan mobil-mobil lama yang masih kece gila. Iya beneran, aku aja sampai nge-batin.. itu mobil beneran atau cuma replika. Mobil-mobil yang masih kinclong itu jelas mobil-mobil kelas kolektor. Penggemar mobil antik dipastikan kejang-kejang pengen ngembat tuh mobil kalau masuk ke sana.

Gedung hall utama emang pas jadi ruangan pertama yang akan ditemui pengunjung. Didominasi mobil-mobil Eropa yang antik dan keren gila, dan pastinya digunakan oleh kalangan elit. Lha iya, jaman itu yang bisa pakai mobil minimal 4.000cc kalau bukan orang kaya(h) ya sopir truk gandeng.Bahkan ada mobil eks-RI pertama lho yang mejeng di sini, artinya mobil yang nongkrong warna hitam dari pabrikan Roll Royce ini pernah dinaiki Ir. Soekarno semasa menjadi presiden Republik Indonesia. 
Yang paling bersinar tetep mobil putih dengan roda mirip roda pedati yang mejeng di panggung yang memutar. Merknya di bagian plat tertulis "Tolong Jangan Dipegang; Please Don't Touch", ah sial panjang amat ya merk-nya. Tiga jempol dah (satu jempol gak jelas ikut naik). 

Selain nampang mobil-mobil keren di hall utama, ada juga motor-motor yang gak kalah keren. Tapi entah apa maksudnya itu museum pasang tulisan di atas jajaran sepeda onthel "Tahukah anda, pabrik motor dan mobil terkenal di dunia juga pernah memproduksi sepeda onthel".. mungkin dorongan semangat buat lik Sutiknyo yang sekarang udah bisa bikin sepeda onthel kayu bisa bikin mobil sukur-sukur pesawat terbang nanti.. dari kayu. Tapi kayaknya asik juga naik sepeda onthel dengan merk "Harley's Davidson".. ah paling nanti kamu bilang "kasian tuh orang, gak bisa beli motor bagus sampai sepeda ditempeli sticker Harley's Davidson". Tapi sepeda yang ditampilkan bukan cuma yang bermerk saja. Ada juga sepeda yang dibuat tanpa merk dengan model awal-awal sepeda yang pengayuhnya di roda depan yang ukurannya gede banget.

Gak melulu mobil dan motor, ada juga dipamerkan alat angkut awal saat mesin uap belum ditemukan. Cikar, dokar, becak sampai pedati yang ditarik sama sapi-pun ikut nongkrong. Ada juga kapal-kapal yang semuanya replika ukuran kecil bukan replika ukuran asli. Kebayang kan kalau kapal Titanic yang dipasang replika ukuran asli, itu satu saja udah cukup nutup semua ruang museum hahahaha.

Ada juga ruang simulasi pesawat terbang yang terletak di zona Runway 27. Di zona ini, ditampilkan pesawat-pesawat dari pesawat kecil yang masih pake baling-baling sebiji di tengah sampai pesawat komersil yang udah pake mesin jet. Tapi lupakan sajalah, aku yang lama di NTT udah ngerasain dari jaman pesawat pake baling-baling yang biar mati sebelah masih bisa terbang sampai jaman pesawat udah pake mesin jet. Eh untuk sementara urusan naik pesawat simulasi aku skip dulu.

Keluar dari main hall, kita masuk ke zona pecinan bersebelahan dengan zona batavia. Di zona pecinan dan batavia ini me-replika suasana kawasan Jakarta Kota sampai dengan pelabuhan Sunda Kelapa yang dahulu-nya memang menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan besar di Jakarta. Angkutan yang ditampilkan di zona ini macam oplet-nya si Mandra sama bajaj yang sekarang di jakarta keberadaannya juga mulai hilang digantikan jenis kendaraan rodak tiga baru. Di bagian zona Gudang Batavia, masih banyak kumpulan mobil-mobil keren juga motor-motor lama yang sebagian masih sering kutemui di jalan digunakan oleh para penggemar mobil/motor antik.
Buat kita-kita yang belum ngelongok ke luar negeri, tentu yang asyik saat masuk selepas zona batavia. Zona pertama adalah zona Gangster Town. dengan latar jalan raya lengkap dengan panorama gedung-gedung masa lalu membuat kita dibawa bernostalgia kondisi kota besar di Amerika zaman-zaman gangster masih banyak menguasai kota. Zona ini mungkin zona yang paling diminati untuk berfoto. Mobil-mobil klasik bersliweran di jalan menambah kerennya suasana kota.


Masih ada beberapa zona lagi jika masih kuat menikmati seperti zona Eropa yang menggambarkan miniatur kota-kota di Eropa kayak Roma, Paris, London, replika istana Buckingham Palace, zona Hollywood yang mengambarkan suasana jalan dan bangunan-bangunan di Hollywood masa lampau, sampai dengan Las Vegas yang penuh cahaya berkelap-kelip seperti bintang di langit. Semua lokasi-lokasi ini layak diabadikan, bahkan mungkin ini akan menjadi lokasi favorit untuk foto pre-wedding. Walau denger-denger untuk foto pre-wedding dikenakan biaya 2,5juta (termasuk tiket masuk pasangan dan kru kali). Cuma karena sudah terlalu sore juga kaki yang sudah terasa pegal-pegal, istriku beberapa kali harus mencari tempat duduk untuk beristirahat. Luasnya museum ini memang lumayan bikin capek untuk dijelajahi.

Pernik-Pernik
Berlokasi di Jl. Terusan Sultan Agung Atas No. 2 Kota Wisata Batu, Museum Angkut berada satu grup dengan Jatim Park 1 dan 2, Batu Secret Zoo, serta Batu Night Spectacular dalam Jawa Timur Park Group. Kalau pengen dapat gambaran lokasinya bisa mengunjungi situsnya http://www.museumangkut.com/zona-museum-angkut/# tapi menurutku sih malah tidak terlalu lengkap, tapi kalau mau pesen tiket sekalian dengan lokasi wisata yang masih satu kesatuan dengan Jaw Timur Park Group sih enak kalau pesen di sini dulu. Apalagi kalau lagi ada promo.


Museum ini kata mbah Wiki didirikan tahun 2014 jadi masih tergolong baru. Selain mobil yang pernah digunakan presiden RI-1, katanya ada juga beberapa mobil yang memiliki nilai sejarah, salah satunya adalah mobil Land Rover buatan tahun 1958 yang pernah digunakan Lady Diana dan suaminya Pangeran Charles. Ada juga mobil Tucuxi yang ditampilkan dalam kondisi hancur, bagi yang agak lupa mobil Tuxuci adalah mobil listrik buatan anak negeri yang kerap digunakan oleh Dahlan Iskan yang kemudian mendapatkan kecelakaan nahas.

Pengguna kamera DSLR yang masuk ke dalam dikenakan biaya tambahan 30-rebu, tapi itu bukan cuma DSLR termasuk juga kamera poket, handycam, dan sejenisnya. Yang gak kena charge cuma hape. Jadi menurutku, kalau kameramu gak siap ambil gambar yang bagus misal bukaan/aperture gak lebar atau takut noise tinggi bisa titip dulu. Sekedar info, ruangan hall utama tempat mobil-mobil kece badai itu ruangannya minim cahaya. Emang tampak dramatis kalau dilihat, tapi jadi simalakama kalau dipotret.
Baca keseluruhan artikel...

Selasa, 02 Mei 2017

Menjadi Putri di Istana Maimoon


Mau merasakan sensasi menjadi putri sehari? Coba datang berkunjung ke Istana Maimoon di Medan. Nanti ada ibu yang dengan senang hati memakaikan kebaya panjang, kain dan selendang berwarna keemasan ditambah mahkota di atas kepala (khusus untuk wanita, yang pria jangan coba-coba minta ya). Kemudian kita duduk di kursi singgasana ...sim salabim... jadilah Putri Kesultanan Melayu Deli. Jangan lupa setelah berpakaian putri lanjut berfoto-foto di sekitar istana untuk menambah aura keputrian anda. Anggap saja kita sedang bermain cosplay hehehe.

Menjadi ratu Maimoon selama satu jam hehehe
Istana Maimoon ini dibangun di Medan pada masa pemerintahan Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Beliau adalah Sultan ke-9 Kesultanan Melayu Deli. Pembangunan Istana Maimoon selesai dan diresmikan pada tanggal 25 Agustus 1888. Dahulu istana berada di daerah Labuhan. Pendiri Kesultanan Deli adalah Panglima Muhammad Dalik yang bergelar Tuanku Sri Paduka Gocah Pahlawan yang saat itu masih dibawah Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1632. Sultan Mahmud Lamantjiji Perkasa Alam sebagai Sultan Deli masa kini yang dinobatkan menjadi sultan ke-14 sejak tahun 2005.

Lokasi Istana Maimoon mudah dijangkau karena berada di pusat kota Medan tepatnya di Jl. Brigjend Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun. Berdekatan dengan Masjid Raya Al Mansun atau lebih dikenal sebagai Masjid Raya Medan. 

Bangunan istana begitu megah dengan posisi menghadap timur. Arsitekturnya perpaduan Moghul India, Timur Tengah, Belanda dan Melayu. Warna kuning keemasan mendominasi bangunan sebagai ciri khas Kesultanan Melayu Deli. Menurut Tengku Lukman Sinar, dalam buku "Riwayat Hamparan Perak" (www.melayuonline.com) Kapten TH Van Erp seorang tentara KNIL (Koninklitje Nederlandsche Indische Leger) adalah arsitek Istana Maimoon tersebut. 

Luas bangunan istana sekitar 2.772 m2 dengan luas halaman mencapai empat hektar. Bangunan istana berlantai dua ditopang kayu dan batu. Bangunan terdiri tiga bagian. Bangunan utama atau induk, Bangunan Sayap Kanan dan Bangunan Sayap Kiri.

Aku menapaki tangga menuju pintu bangunan utama. Didalamnya terdapat kursi kerajaan, perabot dan foto-foto keluarga sultan. Disana banyak wisatawan yang berfoto dengan memakai baju khas Melayu Deli. Sekarang Istana lebih banyak digunakan untuk acara-acara kerajaan, seperti pelantikan sultan, pernikahan, pertunjukan musik tradisional dan perayaan silahturahmi antar keluarga sultan.

Bangunan lokasi Meriam Puntung
Di samping kiri istana ada Meriam Puntung. Puntung berarti potong atau patah. Sayang saat aku ke sana, bangunan tempat Meriam Puntung berada sedang terkunci. Aku hanya bisa mengintip saja di sela-sela lubang dinding. Ketika aku sedang memotret bangunan sekitar, seperti ada yang memperhatikanku dari arah dalam Meriam Puntung. Tiba-tiba entah mengapa aku merasa sedih. Hhmm.. mungkin hanya perasaanku saja.

Berdasar tulisan di tugu dekat meriam disebutkan Mambang Khayali seorang putri, adik Putri Hijau yang merubah dirinya menjadi meriam demi menyelamatkan Putri Hijau dari serangan Raja Aceh. Namun ada legenda lain mengenai asal mula Meriam Puntung. Konon Putri kerajaan yang bernama Putri Hijau dilamar Raja Aceh. Tetapi kedua kakak sang putri, Pangeran Mambang Yasid dan Pangeran Mambang Khayali menolak lamaran tersebut. Raja Aceh pun menjadi marah dan menyerang istana. Ketika peperangan berlangsung pasukan istana terdesak. Pangeran Mambang Yasid merubah dirinya menjadi Naga untuk menyelamatkan Putri Hijau dan Pangeran Mambang Khayali merubah dirinya menjadi Meriam untuk menyerang Prajurit Aceh. Demikian banyaknya peluru yang dilontarkan meriam, menyebabkan meriam patah terbelah dan terpental jauh. Gugurlah Sang Pangeran.



Sebagai pelengkap perjalanan wisata, kita bisa membeli buah tangan/souvenir berupa sarung, selendang, gantungan kunci dan kaos dari kios yang berada di Istana Maimoon. 

Foto & teks: Arum Mangkudisastro
Baca keseluruhan artikel...

Senin, 10 April 2017

Bunker Jepang di Bukit Cinta

Awan gelap menjadi pemandangan yang biasa kami temui tiap sore di langit Kupang beberapa hari ini. Secerah apapun langit pagi, akan berbeda saat sore beranjak. Mendung entah dari mana akan memucatkan langit yang semula cerah. Duduk di atas salah satu bunker, pemandangan rerumputan hijau tampak sejauh mata memandang. Oh tidak, bukan cuma rerumputan dan pepohonan hijau saja ternyata. Di kejauhan banyak banyak noktah-noktah kecil yang sedang bercengkerama. Mereka pasangan-pasangan yang menjadikan tempat ini untuk memadu kasih. Mungkin dari mereka-lah asal nama Bukit Cinta disematkan untuk tempat ini.

Menikmati Sunset di Bukit Cinta
Kalau sekarang noktah-noktah itu bukan lagi adalah pasangan-pasangan penuh cinta. Kini adalah noktah lainnya yang mengisi kehijauan sabana. Mereka adalah rombongan-rombongan yang sekedar ingin mengabadikan keindahan lewat jepretan atau setidaknya narsis di tempat ini. Jaman kamera resolusi tinggi menjadi barang yang jamak ada di banyak perangkat telah menciptakan budaya baru. Merekam gambar dimanapun berada, entah gambar pemandangan lokasi atau foto diri sendiri. Sekarang semua tempat yang dianggap hit menjadi serbuan semenjak media sosial telah menjadi barang biasa. Dan bukit cinta di Penfui menjadi salah satu lokasi favorit untuk dibadikan.

Sambil minum kopi panas yang aku bawa dalam termos kecil, aku, Imam dan pak Sulih duduk di salah satu bunker menikmati langit senja yang masih pucat. Sekarang tempat ini tak sesepi dulu. Tiap sudut kamu akan temui orang-orang yang duduk sekedar saling bercerita sambil menunggu matahari tenggelam atau sekedar narsis untuk dibagikan di medsos. Di depan kami ada tiga cewek satu cowok yang dari tadi tidak lepas dari smartphone yang dijepretkan.

Memang pada bulan-bulan hujan sampai dengan nanti pertengahan tahun, penampakan bukit ini sedap dipandang dengan view padang rumput yang menghijau. Penampakan rerumputan yang meninggi menutupi kondisi tanah perbukitan yang sebenarnya lebih didominasi batuan karang yang telah menghitam. Cobalah datang pada selepas tengah tahun sekitar bukan September sampai nanti musim penghujan, makan bukit ini akan tampak tak ubahnya sebuah padang batu karang yang semuanya tampak menghitam terutama saat dilihat dari atas pesawat.

Tapi saat rerumputan menghijau seperti sekarang, perbukitan ini berubah menjadi padang sabana yang cantik. Rerumputan rebah mengikuti arah angin, satu dua pepohonan menghijau. Dan lebih istimewa lagi, bukit ini juga bisa untuk menikmati matahari tenggelam. Terutama jika matahari tenggelam dari pantai sudah membuatmu bosan. Dari puncak bukit, laut tampak jelas sehingga matahari kekuningan yang tenggelam di horison laut sisi barat Kupang dapat jelas terlihat.

Bunker Peninggalan Jepang
Masyarakat sekitar awalnya menyebutkan kalau lokasi ini ada gua Jepang. Berawal dari cerita itu aku mencoba mencari tahu keberadaan gua-gua Jepang yang katanya banyak tersebar banyak juga di dalam lokasi bandara El-Tari Kupang. Tapi justru yang aku banyak lihat mereka bukan berupa lubang gua yang tembus di antara perbukitan melainkan bangunan-bangunan persegi. Sebagian besar bangunan tertanam  dalam tanah, hanya ada sedikit tonjolan setinggi lutut.

Apakah bangunan-bangunan ini terhubung satu sama lain sebagaimana gua-gua Jepang itu? Aku tidak yakin tapi dari satu dua gua Jepang yang pernah aku masuki, bangunan itu hanya bangunan persegi dengan jalan masuk kecil dan beberapa jendela kecil. Jadi menurutku, bangunan ini lebih pas disebut bunker Jepang. Ya bunker, sebatas tempat yang digunakan sebagai tempat persembunyian saja. Selanjutnya aku akan menyebut bangunan ini dengan nama bunker bukan gua sebagaimana masyarakat sekitar menyebutnya.


Bunker peninggalan Jepang ini ukurannya bermacam-macam dari yang terkecil seukuran kurang lebih enam meter persegi sampai ada yang berukuran besar sekitar lima belas meter persegi. Bunker ini rata-rata memiliki ketebalan antara dua puluh sampai tiga puluh centimeter. Ada jalan masuk yang rata-rata ukurannya kecil yang untuk masuk harus menundukkan badan karena tidak lebih dari satu setengah meter. Bahkan ada beberapa pintu yang lebih kecil dari itu. entah memang ukurannya yang memang sekecil itu ataukah karena tertimbun lama. Bunker-bunker ini memang sudah tidak terawat lagi, untungnya dengan konstruksinya yang kokoh membuat bunker-bunker sebagian besar tetap utuh.

Jadi jangan berharap akan menemukan gua Jepang sebagaimana gua Jepang di Jawa sebagaimana yang pernah aku lihat di perbukitan sekitar pantai Pangandaran dan di Taman Hutan Raya Juanda di Bandung. Gua-gua di sana biasanya dibentuk dengan membuat lubang-lubang kecil yang seukuran tubuh orang Jepang disekitar bukit. Gua-gua ini terhubung satu sama lain sehingga selain bisa untuk tempat persembunyian juga bisa digunakan untuk tempat melarikan diri.

Di salah satu bukit ada bangunan segi delapan. Agak sulit menemukannya, selain karena terletak di atas bukit, bangunan ini juga bentuk rata tanpa tonjolan. Bangunan ini berbeda dengan bunker lainnya di sekitarnya. Karena tidak ada lubang sama sekali, mungkin sekali ini bangunan ini dulunya digunakan sebagai landasan untuk menempatkan meriam mereka.

Yang disayangkan tentu saja sampah yang rata-rata tampak berserakan di sekitar bunker. Ini pasti ulang pengunjung yang datang bawa makanan dan malas membawa kembali sisa sampah mereka. Namun yang mengagetkan, aku pernah melihat di pintu masuk bunker bukan menemukan sampah plastik atau kertas tapi celana dalam dan beha. Serius? Dua rius malah. Denger-denger tempat ini dulu pernah dilarang dikunjungi malam hari karena disinyalir menjadi tempat untuk melakukan perbuatan mesum. Bunker-bunker ini memang lokasi yang cukup tersembunyi dari pandangan.

Baca keseluruhan artikel...

Jumat, 31 Maret 2017

Air Terjun: Coban Rondo & Coban Tengah

Sabtu pagi aku sudah membangunkan istriku yang meringkuk ke dalam selimut. Bukan pekerjaan gampang bangun pagi-pagi saat udara masih dingin membekukan tulang. Kalau bukan karena mengiyakan ajakanku kemarin sore, mungkin dia saat ini akan memilih membenamkan wajahnya ke dalam selimut. Sambil menunggu istriku berdandan aku mencoba keluar kamar sebentar untuk menggerakkan badan. Tidak terlalu dingin menurutku, padahal aku cuma menggunakan kaos dalam saja. Sekarang aku sudah banyak mengerti menghadapi hawa dingin pegunungan.

Di pelataran Hotel Nirwana pagi ini aku lihat lebih banyak mobil terparkir, padahal sehari sebelumnya sepi sekali hanya ada dua kamar yang terisi selain kamarku. Kawasan Songgoriti memang tak seramai dulu lagi walau masih banyak penduduk setempat yang menyewakan villa, itu kata beberapa orang yang aku mintai saran saat mau berkunjung ke Kota Batu, Malang. Hari ini Sabtu, perkiraanku mulai bakalan banyak orang datang dan membuat tempat wisata ramai dan sesak orang. Jelas lokasi air terjun Coban Rondo yang akan aku tuju kemungkinan besar juga begitu.

Cuaca agak mendung, aku ragu apakah hari ini turun hujan atau tidak. Walau bulan Agustus itu bulan panas kalau di Kupang, tapi tidak dengan Kota Batu. Bulan seperti ini, masih ada saja hujan yang turun. Itulah susahnya kalau jalan-jalan pakai motor yang otomatis tidak anti hujan. Tapi aku nekat saja tetap jalan toh kalaupun hujan kita bisa berteduh. Begitu keluar hotel, yang aku tuju pertama adalah mencari makan pagi karena hotel masih belum menyiapkan makan pagi sebelum jam tujuh.

Air Terjun Coban Rondo
Jarak dari hotel Nirwana ke air terjun Coban Rondo sekitar 7,7km berdasarkan aplikasi Google Maps kalau lewat jalan Rajekwesi, tapi karena masih pagi aku memilih lewat jalan Trunojoyo yang banyak dilewati kendaraan besar tapi tidak terlalu ramai. Hanya sekitar setengah jam, aku sudah sampai di depan gerbang masuk air terjun Coban Rondo. Ternyata masih ada sekitar sekilo lebih jalan yang harus ditempuh sampai ke lokasi parkiran air terjun. Walaupun lebih dekat dari Kota Batu, namun air Terjun Coban Rondo sebenarnya masuk wilayah Kabupaten Malang, tepatnya di desa Pandesari, Kecamatan Pujon.

Pagi masih sepi, hanya sedikit pedagang yang sudah membuka kiosnya. Itu pun aktivitas mereka lebih banyak sedang mempersiapkan barang dagangan, sebagian mulai membersihkan halaman sekitar kios-kios mereka.

Karena letaknya yang tidak jauh dari tempat parkir, suara gemuruh air terjun sudah terdengar setelah berjalan masuk beberapa meter ke dalam gerbang masuk. Sekitar seratusan meter sudah terlihat air yang jatuh dari ketinggian. Jalan setapak menuju air terjun sudah disemen dan sebagian con-block.

Kawasan parkir air terjun Coban Rondo waktu pagi
Sampai di air terjun, sudah ada beberapa orang muda-mudi yang datang terlebih dahulu ke air terjun. Kemungkinan mereka adalah rombongan yang menginap semalam di sekitar kawasan perkemahan Coban Rondo yang banyak ditumbuhi hutan pinus. Karena daerah ini merupakan wana wisata Coban Rondo, jadi wisata yang ditawarkan bukan hanya air terjun Coban Rondo sendiri. Ada kawasan bumi perkemahan diantara gerbang masuk wana wisata dan air terjun. Wah dingin banget pasti kalau nenda di sini. Ada juga air terjun Coban Tengah yang papan petunjuknya aku temui di pertengahan gerbang masuk menuju ke area air terjun Coban Rondo.

Dengan ketinggian 84 meter ini membuat sebagian air tampak seperti uap air yang jika tertiup angin agak kencang uap air itu bisa mencapai puluhan meter jatuhnya. Pemilik kamera yang body-nya tidak tahan air harus berhati-hati, masalahnya kita tidak bisa menduga arah angin.

Batu besar (kiri) tempat Dewi Anjarwati merenungi nasibnya
Untungnya mendatangi air terjun di saat bukan hari libur seperti ini, kita bebas dari lalu lalang yang membuat kegiatan memotret lebih banyak diisi orang daripada pemandangan. Suasana yang tenang seperti ini jadi lebih nyaman untuk menikmati air terjun.

Di balik keindahan air terjun Coban Rondo ini sebenarnya ada cerita mistis yang menjadi asal usul nama air terjun ini. Konon ini bermula dari pernikahan antara Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi, sedangkan mempelai pria bernama Raden Baron Kusumo dari Gunung Anjasmoro. Diusia 36 hari pernikahan mereka, Dewi Anjarwati mengajak suaminya berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Dalam perjalanan, mereka bertemu Joko Lelono, yang terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati dan berusaha merebutnya. Akibatnya terjadilah perkelahian antara Joko Lelono dengan Raden Baron Kusumo. Kepada para punakawan yang menyertai mereka, Raden Baron Kusumo berpesan menyembunyikan Dewi Anjarwati di suatu tempat yang terdapat di air terjun. Akibat perkelahian berimbang itu, Raden Baron Kusumo dan Joko Lelono gugur. Dewi Anjarwati menjadi seorang janda (bahasa jawa: Rondo) memutuskan tidak kembali dan tinggal di tempat itu. Sejak saat itulah coban atau air terjun tempat bersembunyi Dewi Anjarwati dikenal dengan Coban Rondo. Batu besar di bawah air terjun merupakan tempat duduk sang putri yang merenungi nasibnya menjadi janda. Begitu cerita yang diungkapkan di papan informasi.

Air Terjun Coban Tengah
Karena masih pagi, akhirnya aku memutuskan untuk ke air terjun Coban Tengah yang belum lama ditemukan. Sempat kebingungan karena jalur datang dan jalur pulang berbeda jadi bingung dimana jalur putarnya. Akhirnya paling gampang balik lagi sampai ke tempat gerbang masuk masuk putar balik mengikuti arah jalan balik ke air terjun masuk Coban Rondo. Di pertigaan deket semacam villa ada papan petunjuk yang mengarahkan ke air terjun Coban Tengah. Kalau aku tidak salah inget itu sebelum bumi perkemahan Coban Rondo.

Ternyata jalur ke arah coban tengah sedang ada perbaikan sehingga ditutup untuk umum. Cuek saja, aku coba masuk ke dalam toh nanti kalau memang tidak bisa ya tinggal balik lagi. Ternyata jalan yang ada masih lancar dimasuki motor tapi susah untuk kendaraan roda empat. Di beberapa titik ada longsoran yang menimbun setengah badan jalan yang sudah sempit.

Sekitar sekilo masuk sampailah ke pintu gerbang yang bagian loketnya kosong melompong tanpa petugas. Lah iya lah, kan di depan sudah tertulis papan peringatan jadi ngapain juga petugas harus berjaga di sini. Penjaganya hanya sepasang patung kayu yang bikin suasana malah mistis. Lupakan warung makan, satu-satunya kios yang berdiri di sebelah kanan loket juga sudah kosong.

Berbeda dengan Coban Rondo yang sepanjang jalan telah menggunakan conblok dan dibeton, jalan di sepanjang Coban Tengah masih jalan tanah setapak itu pun harus melewati satu sungai yang pasti tidak bisa dilewati saat musim hujan. Suasana masuk ke tempat ini jauh lebih sepi. Mungkin karena itu aku tidak menemukan papan informasi selain sebuah papan yang dipasang melintang dengan tulisan warna merah bertulis Coban Tengah di ujung jalan menurun menuju air terjun.

Urusan narsis tetep harus ada kan
Ketinggian air terjun ini lebih pendek daripada di Coban Rondo, tapi yang aku paling suka tempatnya masih lebih alami dan pasti jauh lebih sepi dibanding Coban Rondo. Ah tempat-tempat seperti ini memang asyiknya dikunjungi saat masih belum dikembangkan. Walaupun akses jadi lebih sulit tapi setidaknya kita bisa melihat pemandangan air terjun yang masih alami.

Di air terjun Coban Tengah ini, air yang jatuh bukan dari atas bukit seperti umumnya air terjun tapi dari tengah, seolah-olah air itu muncul dari dalam gua di antara dinding batu. Sayangnya tidak ada atau setidaknya aku tidak menemukan track jalan menuju ke atas untuk melihat asal air terjun ini.

Karena mendung kembali datang, akhirnya aku memutuskan kembali. Karena bila hujan benar-benar turun bukan hujannya sendiri yang aku kuatirkan tapi karena harus melewati sungai yang tidak ada jembatannya.

Baca keseluruhan artikel...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Tulisan Lainnya